Selasa, 25 Oktober 2011

Ilmu Tajwid

ILMU TAJWID


Hukum ra'

Hukum ra' adalah hukum bagaimana membunyikan huruf ra' dalam bacaan. Terdapat tiga cara yaitu kasar atau tebal, halus atau tipis, atau harus dikasarkan dan ditipiskan.


Bacaan ra' harus dikasarkan apabila:

  • Setiap ra' yang berharakat atas atau fathah.
Contoh: ﺭَﺑﱢﻨَﺎ
  • Setiap ra' yang berbaris mati atau berharakat sukun dan huruf sebelumnya berbaris atas atau fathah.
Contoh: ﻭَﺍﻻَﺭْﺽ
  • Ra' berbaris mati yang huruf sebelumnya berbaris bawah atau kasrah.
Contoh: ٱﺭْﺟِﻌُﻮْﺍ
  • Ra' berbaris mati dan sebelumnya huruf yang berbaris bawah atau kasrah tetapi ra' tadi berjumpa dengan huruf isti'la'.
Contoh: ﻣِﺮْﺻَﺎﺪ

Bacaan ra' yang ditipiskan adalah apabila:

  • Setiap ra' yang berbaris bawah atau kasrah.
Contoh: ﺭِﺟَﺎﻝٌ
  • Setiap ra' yang sebelumnya terdapat mad lain
Contoh: ﺧَﻴْﺮٌ
  • Ra' mati yang sebelumnya juga huruf berbaris bawah atau kasrah tetapi tidak berjumpa dengan huruf isti'la'.
Contoh: ﻓِﺮْﻋَﻮﻦَ

Bacaan ra' yang harus dikasarkan dan ditipiskan adalah apabila setiap ra' yang berbaris mati yang huruf sebelumnya berbaris bawah dan kemudian berjumpa dengan salah satu huruf isti'la'.

Contoh: ﻓِﺮْﻕ


    • Isti'la' (ﺍﺳﺘﻌﻼ ﺀ): terdapat tujuh huruf yaitu kha' (خ), sod (ص), dhad (ض), tha (ط), qaf (ق), dan zha (ظ)

Hukum Qalqalah

Qalqalah (ﻗﻠﻘﻠﻪ) adalah bacaan pada huruf-huruf qalqalah dengan bunyi seakan-akan berdetik atau memantul. Huruf qalqalah ada lima yaitu qaf (ق), tha (ط), ba' (ب), jim (ج), dan dal (د). Qalqalah terbagi menjadi dua jenis:

  • Qalqalah kecil yaitu apabila salah satu daripada huruf qalqalah itu berbaris mati dan baris matinya adalah asli karena harakat sukun dan bukan karena waqaf.
Contoh: ﻴَﻄْﻤَﻌُﻮﻥَ, ﻴَﺪْﻋُﻮﻥَ
  • Qalqalah besar yaitu apabila salah satu daripada huruf qalqalah itu dimatikan karena waqaf atau berhenti. Dalam keadaan ini, qalqalah dilakukan apabila bacaan diwaqafkan tetapi tidak diqalqalahkan apabila bacaan diteruskan.
Contoh: ٱﻟْﻔَﻟَﻖِ, ﻋَﻟَﻖٍ
==================================================================
GHUNNAH MUSYADDADAH
(نّ - مّ)

Yang dinamakan ghunnah musyaddadah adalah apabila ada nun bertasydid (نّ) atau mim bertasydid (مّ). Setiap ada nun atau mim bertasydid tersebut maka harus dibaca dengung yang sempurna (2 / 3 harakat)
Perhatikan contoh berikut :
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ عَمَّ يَتَسَاءَلُوْنَ


HUKUM BACAAN NUN SUKUN DAN TANWIN
نْ ( ً ٍ ٌ )

A. Idzhar Halqi
Yang diamakan idzhar halqi adalah apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu salah satu huruf halqi (yang keluar dari tenggorokan), yaitu : ء ح خ ع غ ﻫ
Adapun cara membacanya adalah harus dibaca jelas.
Contoh :
ء - مَنْ اٰمَنْ ح - مِنْ حمَِيْمٍ خ - مِنْ خَلاَقٍ
ع - اَنْعَمْتَ غ - مِنْ غِسْلٍ ﻫ - مَنْ هَلَكَ
B. Iqlab
Yang dinamakan iqlab adalah mengganti suara nun sukun atau tanwin menjadi mim sukun ketika bertemu dengan huruf Ba' (ب)
Contoh : سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ
C. Idghom Bighunnah
Yang dinamakan idghom bighunnah adalah apabila ada nun sukun atau tanwiin bertemu dengan salah satu huruf 4, yaitu : ي م ن و Adapun cara membacanya adalah dengan meleburkan bunyi huruf yang pertama kepada huruf sesudahnya sehingga bunyi huruf yang pertama tidak terdengar lagi dan harus dibaca dengung yang lama.
Contoh :
ي - قُلُوْبٌ يَّوْمَئِذٍ م – عَذَابٌ مُّقِيْمٌ
ن – عَنْ نَّفْسِهِ و – مِنْ وَّرَائِهِمْ
D. Idghom Bila Ghunnah
Yang dinamakan idghom bila ghunnah adalah apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu salah satu huruf ل ر Adapun cara membacanya adalah dengan meleburkan bunyi huruf yang pertama kepada huruf sesudahnya sehingga bunyi huruf yang pertama tidak terdengar lagi, tapi tidak boleh dibaca dengung.
Contoh : ل - مِنْ لَّدُنْهُ ر – رَبٍّ رَّحِيْمٍ
E. Ikhfa' Haqiqi
Yang dinamakan ikhfa' haqiqi adalah apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu salah satu huruf lima belas, selain huruf-huruf yang telah disebutkan di atas yaitu:ت ث ج د ذ ز س ش ص ض ط ظ ف ق ك
Cara membacanya adalah dengan menyamarkan (antara idzhar dan idgham) disertai dengan dengung yang sempurna.
Contoh :
ت - مِنْ تَحْتِهاَ ث - مَاءً ثَجَّاجًا ج - اَنْجَيْنَاكُمْ
ش – عَذَابًا شَدِيْداً د – مِنْ دُوْنِ اللهِ ذ – مَنْ ذَاالَّذِيْ
س – اِنَّ الْاِنْسَانَ ش – عَذَابٌ شَدِيْدٌ ص – وَلَدًاصَالِحًا
ض – مَنْضُوْدٍ ط – وَمَا يَنْطِقُ ظ – عَنْ ظُهُوْرِهِمْ
ف – عُمْيٌ فَهُمْ ق – رِزْقًاقَالُوْا ك – كِرَامًاكَاتِبِيْنَ


HUKUM BACAAN AL
(اَلْ)

A. Idzhar (Al) Qomariyyah
Yang dinamakan Idzhar qamariyyah adalah apabila ada "Al" bertemu huruf qamariyah yang berjumlah 14, yaitu : ب ج ح خ ع غ ف ق ك م و ه ء ي
Apabila ada bacaan "Al" bertemu dengan huruf qamariyah tersebut maka "Al" tetap dibaca jelas.
Contoh : اَلْبَلاَغُ اَلْخَبِيْرُ اَلْغَفُوْرُ
B. Idgham (Al) Syamsiyyah
Yang dinamakan idgham syamsiyyah adalah apabila ada "Al" bertemu salah satu huruf syamsiyah yaitu : ت ث د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ل ن Apabila ada bacaan tersebut maka "Al" tidak lagi dibaca jelas, melainkan masuk ke huruf berikutnya.
Contoh : وَالتِّيْنِ وَالشَّمْسِ اَلضَّلاَلُ


HUKUM BACAAN MIM SUKUN
( مْ )


A. Idgham Mutamatsilain
Yang dinamakan idgham mutamatsilain adalah apabila ada mim sukun bertemu dengan mim. Adapun cara membacanya adalah dengan dengung yang sempurna.
Contoh : لَهُمْ مَا يَتَّقُوْنَ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ
B. Ikhfa' Syafawi
Yang dinamakan idzhar syafawi adalah apabila ada mim sukun bertemu dengan huruf ba' (ب). Cara membacanya adalah dengan dengung yang sampurna.
Contoh : تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ رَبُّهُمْ بِهِمْ
C. Idzhar Syafawi
Yang dinamakan idzhar syafawi adalah apabila ada mim sukun bertemu dengan huruf : ا ت ث ج ح خ د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ع غ ف ق ك ل ن و ﻫ ي. Adapun cara membacanya adalah dengan menjelaskan atau menegaskan suara mim sukun tanpa disertai dengung.
Contoh : ن- لَهُمْ نَائِمُوْنَ ل- اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُم


LAFADZ ALLAH
(الله)


Hukum Bacaan lafadz Allah terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Tafkhim
Dibaca tafkhim apabila lafadz Allah didahului harakat fathah atau dhummah.
Contoh : قُلْ هُوَ اللهُ اِذَاجَاءَ نَصْرُاللهِ
2. Tarqiq
Dibaca tarqiq apabila lafadz Allah bertemu didahului dengan harakat kasrah.
Contoh : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


HUKUM BACAAN RA'
(ر)

Huruf ra (ر) adalah salah satu huruf hijaiyah yang pengucapannya berbeda-beda, suatu waktu dibaca tebal (tafkhim) dan suatu waktu dibaca tipis (tarqiq). Jadi hukum membaca huruf ra' ada dua macam, yaitu :
1. Tafkhim (تفخيم)
Ra' dibaca tafkhim apabila :
a. Berharakat fathah, fathatain, dhummah atau dhummatain.
Contoh : اَلرَّحِيْمُ خَيْرًا رُوَيْدًا كَبِيْرٌ
b. Berharakat sukun dan huruf sebelumnya berharakat fathah atau dhummah.
Contoh : اَرْسَلَ قُرْ آنٌ
c. Berharakat sukun dan huruf sebelumnya berupa hamzah washal (hamzah tambahan) yang berharakat kasrah.
Contoh : اِرْجِعِيْ اِرْكَبْ
d. Berharakat sukun, huruf sebelumnya berharakat kasrah dan huruf sesudahnya berupa huruf isti'la' (huruf yang dibaca tebal, yaitu: خ ص ض غ ط ق ظ)
Contoh : مِرْصَادٌ قِرْطَاسٌ فِرْقَةٌ
e. Didahului huruf mati selain ya' yang sebelumnya berupa huruf yang berharakat fathah dan dibaca waqaf.
Contoh : ©وَالْفَجْرِ ® وَالْفَجْرْ
©مِنْ اَلْفِ شَهْرٍ ® مِنْ اَلْفِ شَهْرْ
2. Tarqiq (ترقيق)
Ra' dibaca tarqiq apabila :
a. Berharakat kasrah atau kasratain.
Contoh : رٍ- خُسْرٍ رِ- رِجْسٌ
b. Berharakat sukun dan huruf sebelumnya berharakat kasrah.
Contoh : فِرْعَوْنَ فَكَبِّرْ
c. Didahului ya' sukun dibaca waqaf.
Contoh : © خَيْرٍ® خَيْرْ ©بَصِيْرٌ ® بَصِيْرْ
d. Didahului huruf mati selain ya' yang sebelumnya berupa huruf yang berharakat kasrah dan dibaca waqaf. Contoh : © بِكْرٌ ® بِكْرْ


BACAAN QALQALAH

Yang dinamakan bacaan qalqalah adalah membunyikan huruf dengan suara yang berlebih dari makhraj hurufnya (disertai dengan getaran suara).
Huruf qalqalah ada lima, yaitu ق ط ب ج د yang terkumpul dalam lafadz : قَطْبُ جَدٍ
Bacaan qalqalah dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Qalqalah sughra
Yaitu apabila ada huruf qalqalah yang dibaca sukun (mati) asli. Contoh :
ق- يَقْرَأُ ط- اَطْوَارًا ب- يَبْخَلُ ج- يَجْعَلُ
د- يَدْخُلُ


2. Qalqalah kubra
Yaitu apabila ada huruf qalqalah dibaca sukun karena waqaf. Contoh : © اَحَدٌ ® اَحَدْ © خَلَقَ ® خَلَقْ
==================================================================

HUKUM BACAAN MAD

Yang dinamakan mad adalah apabila ada fathah diikuti alif, kasrah diikuti ya' sukun, dhummah diikuti wawu sukun dan harus dibaca panjang.
Hukum mad dibagi menjadi dua, yaitu :
A. Mad Asli atau mad thabi'i ( مد اصلي ¤مد طبيعي )
Yaitu mad yang tidak bertemu hamzah, sukun dan tasydid. Cara membacanya adalah panjang satu alif / dua harakat. Contoh : قَالُوْا نُوْحِيْهَا
B. Mad Far'I (مد فرعي)
Yaitu mad yang bertemu dengan hamzah, sukun atau tasydid.

Mad far'i terbagi menjadi :
1. Mad Wajib Muttashil
Yaitu apabila ada mad bertemu dengan hamzah dalam satu kalimat. Adapun cara membacanya adalah panjang lima harakat / dua setengah alif.
Contoh : لِقَاءَۤنَا - نِدَاۤءً
2. Mad Jaiz Munfashil
Yaitu apabila ada mad bertemu dengan hamzah di lain kalimat. Cara membacanya adalah panjang lima harakat / dua setengah alif.
Contoh : اِنَّاۤ اَعْطَيْنَاكَ - وَمَاۤ اُمِرُوْا
3. Mad Lazim Kilmi mutsaqqal
Yaitu apabila ada mad bertemu dengan tasydid dalam satu kalimat. Panjangnya adalah enam harakat / tiga alif.
Contoh : وَلاَالضَّـۤالِّيْنَ - اَلْحَاۤقَّةُ
4. Mad Lazim Kilmi Mukhaffaf
Yaitu apabila ada mad bertemu dengan huruf sukun asli dalam satu kalimat. Panjangnya adalah enam harakat / tiga alif.
Contoh : اٰۤ ْلاٰنَ
5. Mad Lazim Harfi Mutsaqqal
Yaitu mad yang terletak pada huruf-huruf fawatihus suwar (pembuka surat). Panjangnya adalah enam harakat / tiga alif
Contoh : حٰمۤ طٰسۤ
6. Mad Lazim Harfi Mukhaffaf
Yaitu mad yang terletak pada huruf-huruf pembuka surat dan bertemu tasydid. Panjangnya adalah enam harakat / tiga alif
Contoh : الم طٰسم
7. Mad Iwadh
Yaitu harakat fathatain dibaca waqaf, selain ta' marbuthah (ﺔ ). Panjangnya dua harakat / satu alif. Contoh : © عَلِيْمًا ® عَلِيْمَا
8. Mad Silah
Yaitu setiap ada ha' dhamir ( ﻪ ) / Hu atau Hi yang terletak diantara dua huruf hidup. Mad silah terbagi menjadi dua, yaitu :

a. Mad Silah Qasirah
Yaitu apabila ada mad silah bertemu dengan huruf selain hamzah. Panjangnya dua harakat / satu alif. Contoh : لاَتَأْخُذُه سِنَةٌ
b. Mad Silah Thawilah
Yaitu apabila ada mad silah bertemu dengan hamzah (bentuknya alif). Panjangnya dua setengah alif / lima harakat.
Contoh : مَا لَه اَخْلَدَهُ
9. Mad 'Aridh Lis sukun
Yaitu apabila ada mad bertemu huruf hidup dibaca waqaf. Panjangnya boleh 2, 4 atau 6 harakat. Contoh : © صِرَاطَ الْمُسْتَقِيْمِ ® صِرَاطَ الْمُسْتَقِيْمْ
10. Mad Badal
Yaitu setiap ada aa, ii, uu yang dibaca panjang. Adapun cara membacanya adalah panjang dua harakat atau satu alif.
Contoh : آمَنُوْا اِيْمَانٌ اُوْتُوْا

11. Mad Layyin
Yaitu apabila ada fathah diikuti wawu sukun atau ya' sukun bertemu huruf hidup dibaca waqaf. Panjangnya adalah tiga alif / enam harakat.
Contoh : © مِنْ خَوْفٍ ® مِنْ خَوْفْ
© اِلَيْهِ ® اِلَيْهْ


TANDA WAQAF

Menurut bahasa waqaf artinya berhenti. Sedangkan dalam istilah ilmu tajwid waqaf adalah menghentikan pembacaan, baik untuk tidak diteruskan atau untuk mengambil nafas agar dapat melanjutkan bacaan selanjutnya. Waqaf dibagi menjadi dua, yaitu :
Waqaf Ikhtiyari
Yaitu waqaf yang disengaja tanpa ada suatu sebab apapun, seperti ketika ada tanda waqaf atau pada akhir ayat.
Contoh :© اَلْحَمْدُللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


Waqaf Idhtirari
Yaitu waqaf yang terpaksa dilakukan karena sebab-sebab tertentu, seperti karena pendek nafas. Dalam hal ini seseorang yang terpaksa waqaf karena tidak kuat lagi nafasnya, maka harus mengulangi kalimat sebelumnya.
lContoh :
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِيْنَ الَّذِيْنَ اِذَااكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَ©
Karena pendek nafas, kemudian berhenti pada kalimat اِذَااكْتَالُوْا maka sebelum dilanjutkan harus diulang dari اِذَااكْتَالُوْا

Tanda-tanda waqaf : ط قلى قف ج ® sebaiknya berhenti
م ® harus berhenti

Tanda-tanda washal : ص صلى لا ز ® sebaiknya dibaca terus
==================================================================



































Rabu, 12 Oktober 2011

Mabuk Cinta

Posted by admin May - 10 - 2010

Dari artikel lalu, artikel “Kemana Cinta Harus Dilabuhkan?”
, bisa kita simpulkan bahwasanya cinta itu terbagi menjadi dua jenis, yaitu cinta yang terpuji dan cinta yang tercela.

Imam Ibnul Qayyim, rahimahullah berkata, “Jenis cinta tercela yang paling berat adalah mencintai sesuatu dengan kadar yang sama dengan cinta kepada Allah. Seorang itu telah mencintai sesuatu dan menyamakannya dengan kadar cintanya kepada Allah. Jenis cinta syirik ini merupakan penyebab utama kesengsaraan seorang. Sebaliknya jenis cinta terpuji yang paling besar adalah cinta hanya kepada Allah. Jenis cinta ini adalah penyebab utama kebahagiaan seorang. Mereka yang memiliki cinta ini meski masuk ke dalam neraka karena dosa-dosanya tetapi mereka tidak kekal disana .”[2]

Penyakit cinta yang paling mewabah umat, terutama para pemuda dan pemudi Islam adalah penyakit isyq (mabuk cinta/kasmaran), yang berarti الإفراط في المحبة, kecintaan kepada lawan jenis dengan kadar yang berlebihan[3]. Betapa banyak orang yang terfitnah dengan jenis cinta ini.

Renungkanlah kondisi kebanyakan orang yang dirundung cinta buta ini. Jika kita menimbang sisi keimanan dan ketauhidan yang mereka miliki dengan kondisi kecintaan yang menimpa mereka, maka timbangan atau jika kita mengukur keridhaan Allah dan rasul-Nya, maka timbangan antara keridhaan Allah dan rasul-Nya dengan keridhaan diri seorang yang mencintai kekasihnya tersebut akan sama beratnya. Bahkan sebagian pemabuk cinta secara terang-terangan lebih mencintai kekasihnya daripada menauhidkan Allah. Salah seorang dari mereka mengatakan,

يترشفن من فمي رشفات … هن أحلى فيه من التوحيد

“Perempuan-perempuan itu menghisap mulutku lebih nikmat daripada menauhidkan Allah.”

Yang lain mengatakan ia lebih bersyahwat kepada kekasihnya daripada rahmat Allah, dia mengatakan,

وصلك أشهى إلى فؤادي … من رحمة الخالق الجليل

“Berhubungan denganmu lebih aku senangi di hatiku daripada rahmat Allah, sang Pencipta yang Agung.”

Oleh karenanya, cinta buta ini tidak hanya menghantarkan seorang kepada kemaksiatan, bahkan cinta ini terkadang menghantarkan kepada kesyirikan dan kekafiran. Jika ia menjadikan kekasihnya sebagai tandingan selain Allah, berarti ia telah mencintainya dengan kadar yang sama dengan kecintaannya kepada Allah. Inilah kecintaan yang mengandung kesyirikan. Demikian pula, jika cintanya kepada sang kekasih melebih kecintaannya kepada Allah, maka cintanya ini merupakan jenis dosa cinta kesyirikan, keduanya tidak akan diampuni Allah karena termasuk syirik yang paling besar, kecuali dia bertobat.

Salah satu tanda kesyirikan dalam cinta ini adalah dia lebih mengutamakan keridhaan dan kesenangan orang yang dicintainya daripada keridhaan dan kesenangan Allah. Jika antara kepentingan Allah dan kepentingan yang dicintainya bertentangan, ia lebih menaati orang yang dicintainya daripada taat kepada Allah. Ia memberikan kepada yang dicintainya sesuatu yang lebih berharga dan tidak memberikannya kepada Allah.[4]

Oleh karena bahayanya yang teramat besar, salah seorang ulama pernah mengatakan,

لئن أبتلى بالفاحشة مع تلك الصورة أحب إلى من أن أبتلى فيها بعشق يتعبد لها قلبي ويشغله عن الله

“Saya lebih suka ditimpa musibah dosa melakukan kekejian daripada aku ditimpa dosa ‘isyq (cinta buta), sehingga hatiku beribadah kepadanya dan melalaikan diriku dari Allah.”[5]

Dampak Negatif Mabuk Cinta

Seorang yang tertimpa kasmaran (mabuk cinta) akan mengalami berbagai mafsadah (kerusakan), baik dalam hal dunia maupun agama. Imam Ibnul Qayyim rahimahulah menyebutkan beberapa mafsadah tersebut dalam kitabnya, Al Jawabul Kaafi. Berikut diantaranya,

  • Dia akan disibukkan dengan mengingat-ngingat makhluk dan mencintainya dari kesibukan dzikir dan cinta kepada Allah. Kedua dzikir dan cinta ini tidak mungkin menyatu dalam hati seorang karena keduanya akan saling bertarung dan yang akan menguasai adalah yang paling dominan.
  • Hatinya akan tersiksa karena objek yang dicintainya; karena barangsiapa yang mencintai selain Alah, ia akan tersiksa dengannya. Cinta buta meski terkadang dinikmati oleh pelakunya, namun pada hakekatnya ia merasakan ketersiksaan hati yang paling berat.
  • Hatinya tertawan dan terhina dalam genggaman orang yang dicintainya. Namun karena ia mabuk cinta, ia tidak merasakan musibah yang menimpanya, seperti anak burung dalam genggaman anak kecil yang mempermainkan burung kecil itu.
  • Ia disibukkan oleh kekasihnya sehingga lalai terhadap urusan agama dan dunianya. Tidak ada orang yang paling menyia-nyiakan agama dan dunia melebihi orang yang sedang dirundung mabuk cinta. Ia menyia-nyiakan maslahat agamanya karena hatinya lalai untuk beribadah kepada Allah. Kalau pun dia beribadah kepada Allah, dia akan melaksanakannya dengan hati yang lalai dari mengingat Allah, dia beribadah namun hatinya tertuju kepada kekasihnya.
  • Jika kekuatan setan menguasai seorang, ia akan merusak akal dan memberikan rasa was-was. Bahkan orang yang tertimpa ‘isyq mungkin tidak ada bedanya dengan orang gila. Dia tidak menggunakan akalnya secara layak. Padahal yang paling berharga bagi manusia adalah akal, yang akan membedakan antara dirinya denan binatang. Apa yang membuat gila seorang pria dalam kisah Laila Majnun atau orang yang sepertinya kalau bukan mabuk cinta? Hal ini seperti kata penyair,

قالوا جننت بمن تهوى فقلت لهم … العشق أعظم مما بالمجانين

العشق لا يستفيق الدهر صاحبه … وإنما يصرع المجنون في الحين

Mereka bilang, “Kamu tergila-gila dengan orang yang kau cintai?”

Aku pun menjawab, “Cinta buta lebih dahsyat daripada orang gila.”

Orang yang terserang cinta buta tidak akan tersadar sepanjang masa

Sementara orang gila akan siuman dari kegilaannya

  • Cinta buta akan merusak indera atau mengurangi kepekaannya, baik indera yang kongkrit maupun yang abstrak. Kerusakan indera maknawai (abstrak) akan mengikuti rusaknya hati, sebab jika hati telah rusak, maka organ pengindera lain seperti mata, lisan, telinga juga turut rusak. Artinya dia akan melihat yang keburukan kekasihnya sebagai sesuatu yang baik.

Mata hati akan buta melihat keburukan dan kekurangan orang atau sesuatu yang dicintainya, sehingga mata fisiknya tidak mampu melihat hal itu. Telinganya akan tuli mendengarkan celaan orang kepada orang yang dicintainya.

Berbagai kesenangan dan perasaan cinta buta akan menutup kekurangan dan aib, sehingga jika kesenangannya hilang dia akan melihat aib-aib itu. Semakin kuat kecintaan orang maka semakin pekat kegelapan yang menutup matanya sehingga tidak mampu melihat sesuatu dalam bentuk sebenarnya. Kata seorang penyair,

هويتك إذ عينى عليها غشاوة … فلما انجلت قطعت نفسي ألومها

“Kecintaanku kepadamu menutup mataku

Namun ketika terlepas cintaku, semua aibmu menampakkan diri”

  • Seperti yang disebutkan bahwa ‘isyq adalah berlebihan dalam mencintai, sehingga orang yang dicintainya sudah pada tingkat menguasai dan mengendalikannya. Ia selalu terpikir dengannya dan tidak pernah hilang dari dirinya. Itu artinya kekuatan jiwanya hanya digunakan untuk cintanya. Sehingga kekuatan untuk hidupnya hati dan kekuatan emosionalnya tidak berfungsi. Kalau fungsi ini tidak digunakan, maka fisik dan ruhnya akan terserang berbagai penyakit yang sulit disembuhkan.

Penyebab Cinta Buta

Setiap penyakit tentu ada penyebabnya. Orang yang berakal tentu berusaha untuk mencari penyebab penyakit tersebut sebagai upaya pencegahan. Demikian pula penyakit mabuk cinta, tentu ada penyebabnya. Kami sebutkan beberapa penyebab mabuk cinta/cinta buta secara ringkas kepada anda.

  1. Berpaling dari Allah
  2. Ketidaktahuan seorang tentang bahaya yang akan muncul karena mabuk cinta. Barangsiapa yang tidak mengetahui bahayanya niscaya akan terjerumus dalam kubangan cinta.
  3. Kekosongan hati. Inilah faktor terbesar yang menyebabkan seorang terjangkit penyakit isyq. Ibnu ‘Uqail pernah mengatakan, “Tidaklah penyakit asmara akan muncul kecuali atas orang yang suka melamun dan menganggur. Jarang sekali orang yang memiliki kesibukan terjangkit penyakit ini, baik kesibukan dalam bentuk memproduksi barang-barang ataupun berniaga. Apalagi seorang yang disibukkan dengan ilmu syar’i ataupun hukum syar’i.”[6]
  4. Media informasi yang merusak.
  5. Taklid buta.
  6. Pamer kecantikan atau tabarruj (bersolek ala jahiliyah)
  7. Mengumbar pandangan mata

Pandangan mata ibarat anak panah yang dilepaskan iblis sebagaimana yang terdapat dalam hadits. Siapa saja yang melepaskan pandangan tanpa kendali, niscaya akan merugi selamanya. Hal yang paling berbahaya bagi hati adalah melepaskan pandangan tanpa kendali. Sebab hal itu akan mendorong seorang untuk selalu mencarinya dan tidak akan mungkin untuk sabar menahan diri. Oleh karenanya syari’at ini memerintahkan umatnya untuk menundukkan pandangan. Apalagi model-model wanita zaman sekarang mengharuskan para pria untuk menjaga pandangan mereka.

Obat Cinta Buta[7]

Mengenai cinta buta ini, Ibnul Qayyim telah menyebutkan obatnya,

Pertama, untuk mengobati cinta buta ini seorang harus mengetahui bahwa yang menimpanya adalah sesuatu yang bertentangan dan menafikan tauhidnya kepada Allah. Ia juga harus menyadari bahwa ia melakukan semua itu adalah karena kelalaian hatinya kepada Allah. Oleh karena itu, ia harus mengetahui dan menyadari untuk bertauhid kepada-Nya, sunnah-sunnah-Nya dan bukti-bukti kekuasaan Allah.

Kedua, melakukan berbagai ibadah lahir dan batin sehingga hati dan pikirannya senantiasa berpikir kepada ibadah-ibadah tersebut. Hendaklah ia memperbanyak kembali dan mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh ketundukan, rendah diri dan keikhlasan. Tidak ada obat yang paling efektif daripada ikhlas hanya kepada Allah. Allah ta’ala menyebutkan ini di dalam Al Qur-an,(yang artinya),

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf: 24).

Dalam ayat di atas,Allahya’ala menyelamatkan nabi Yusuf dikarenakan beliau adalah seorang hamba yang mukhlas (ikhlas dalam beribadah kepada-Nya).


Senin, 10 Oktober 2011

4 aliran

Perbedaan padangan tentang factor dominan dalam perkembangan manusia tersebut menjadi dasar perbedaan pendangan tentang peran pendidikan terhadap manusia , mulai dari yang paling pesimis sampai yang paling optimis. Aliran-aliran itu pada umumnya mengemukakan satu factor dominant ntertentu saja , dan dengan demikian, suatu aliran dalam pendidikan akan mengajukan gagasan untuk mengoptimalkan factor tersebut untuk mengembangkan manusia. Contohnya bahwa alira konvergensi mencoba mengemukakan pandangan menyeluruh, dan oleh karena itu, diterima luas oleh banyak pihak.

Teori-teori yang terdapat dalam ilmu pendidikan dilahirkan oleh 4 aliran yang berbeda, yaitu:

  1. Aliran Empirisme
  2. Aliran Nativisme
  3. Aliran Naturalisme
  4. Aliran Konvergensi

a. Aliran Empirisme

Aliran Empirisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan stimulasi ekternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan. Pengalaman yang duperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari di dapat dari dunia sekitarnya yang berupa stimulan2. stimulasi ini berasal dari alam bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program pendidikan. Tokoh perintis pandangan ini adalahseorang filsuf Inggris bernama John Locke (1704-1932) yang mengembangkan teori “Tabula Rasa”, yakni anak lahir kedua bagaikan kertas putih yang bersih.

Aliran empirisme dipandang berat sebelah, sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan. Pada hal kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena bakat, meskipun lingkungan disekitarnya tidak mendukung.

Keberhasilan ini disebabkan oleh adanya kemampuan yang berasal dari dalam diri berupa kecerdasan atau kemauan keras, anak berusaha mendapatkan lingkungan yang dapat mengembangkan bakat atau kemampuan yang ada dalam dirinya. Meskipun demikian, penganut aliran ini masih tampak pada pendapat2 yang memandang manusia sebagai mahluk yang pasif dan dapat dimanipulasi, umpamanya melalui modifikasi tingkah laku. Hal ini tercermind dari pandangan scientific psychology dari BF. Skinner ataupun pandangan behavioralisme lainnya.

Behavioralisme itu menjadikan perilaku manusia yang tampak keluar sebagai sasaran kajiannya, dengan tetap menekankan bahwa perilaku itu sebagai hasil belajar semata-mata. Meskipun demikian, pandangan behavioralisme ini juga masih bervariasi dalam menentukan faktor apakah yang paling utama dalam proses belajar.

1) Pandangan yang menekankan peranan stimulus terhadap perilaku seperti dalam “classical conditioning” atau “respondent learning” oleh Ivan Pavlov (1836-1936) di Rusia dan Jon B. Watson (1878-1958) di Amerika Serikat.

2) Pandangan yang menekankan peranan dari dampak ataupun balikan dari suatu perilaku seperti dalam “operant conditioning” atau “instrumental learning” dari Edward L. Thorndike (1874-1949) dan Rurrhus F. Skinner (1904) di Amerika Serikat.

3) Pandangan yang menekankan peranan pengamatan dari imitasi seperti dalam “observational learning” yang dipelopori oleh NE. Miller dan J. Dollar dengan “social learning and imitation (1941) kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh A. Bandura dengan “participant modeling” maupun dengan “self efficiancy” (1982)

b. Aliran Nativisme

Aliran Nativisme bertolak dari Leibnitzian Tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan, teramasuk faktor pendidikan kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Hasil perkembangan tsb ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperoleh sejak lahir.

Lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Hasil pendidikan tergantung pada pembawaan. Seorang filsuf Jerman Schopenhauer (1788-1860) berpendapat bahwa bayi itu lahir sudah lengkap dengan pembawaan baik ataupun buruk.

Berdasarkan pandangan ini, maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak itu sendiri. Ditekankan bahwa “yang jahat menjadi jahat, dan yang baik menjadi baik”. Pendidikan yang tidak seusia dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri. Istilah nativisme dari asal kata natie yang artinya adalah terlahir. Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Pembawan tidak dapat dirubah dari kekuatan luar.

Meskipun dalam kenyataan sehari-hari, sering ditemukan anak mirip orang tuanya (secara fisik) dan jiga mewarisi bakat2 yang ada pada orang tuanya. Tetapi pembawaan itu bukanlah merupakan satu2nya faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan dan perkembangan anak. Terdapat suatu pendapat aliran nativisme yang berpengaruh luas yakni dalam diri individu terdapat suatu “inti” pribadi (G. Leibnitz: monad) yang mendorong manusia untuk mewujudkan diri, mendorong manusia dalam menentukan pilihan dan kemauan sendiri, dan yang menempatkan manusia sebagai mahluk yang mempunyai kemauan bebas. Padangan tsb tampak dalam humanistic psychology dari Carl R. Rogers atau pandangan phenomenology/humanistik lainnya. Meskipun pandangan ini mengakui pentingnya belajar, namun pengalaman dalam belajar itu ataupun penerimaan dan persepsi seseorang banyak ditentukan oelh kemampuan memberi makna kepada apa yang dialaminya itu. Dengan kata lain, pengalaman belajar ditentukan oleh “internal frame of reference” yang dimilikinya. Pendekatan ini sangat mementingkan pandangan holistik (menyeluruh, gestals), serta pemahaman perilaku orang dari sudut pandang si empunya perilaku itu. Terdapat variasi pendapat dari pendekatan phenomenology/humanistic tersebut sebagai berikut :

1) Pendekaran aktualisasi diri atau non direktif (Client centered) dari Carl R. Rogers dan Abraham Maslow

2) Pendekatan “Personal Constructs” dari george A. Kelly yang menekankan betapa pentingya memahami hubungan “ transaksional” diantara manusia dan lingkungannnya sebagai bekal awal memahami perilakunya.

3) Pendekatan “Gestalt” baik yang klasik (Max Wertheimer dan Wolgang Kphler) maupun pengembangan selanjutnya (K. Lewin dan F. Perls)

4) Pendekatan “ Search Of Meaning” dengan aplikasinya sebagai “ Logotherapy” dari Viktor Franki yag mengungkapkan betapa pentingnya semangat ( Human spririt ) untuk mengatasi berbagai tantangan / masalah yang dihadapi.

Pendekatan-pendekatan tersebut diatas menekankan betapa pentingnya “inti” privasi atau jati diri manusia

b. Aliran Naturalisme

Pandangan ini ada persamaannya dengan nativisme. Aliran naturalisme dipelopori oleh filsuf Perancis (JJ. Rousseau 1712-1778).Berbeda dengan dengan Schpenhaouer, Rousseau berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan buruk. Pembawaan baik anak akan menjadi rusak karena dipengaruhi oleh lingkungan.

Rousseau juga berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan orang dewasa malahan dapat merusak pembawaan anak yang baik itu. Aliran ini juga disebut negativisme, karena berpendapat bahwa pendidik wajib membiarkan pertumbuhan anak pada alam.

Jadi dengan kata lain pendidikan tidak diperlukan. Karena yang perlu dilakukan adalah menyerahkan anak didik ke alam, agar pembawaan yang baik itu tidak menjadi rusak oleh tangan manusia melalu proses dan kegiatan pendidikan. Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat (artificial) sehingga anak-anak yang diperoleh secara alamiah sejak saat kelahirannya itu dapat tampak secara spontan dan bebas. Ia mengusulkan perlunya permainan bebas kepada anak didik untuk mengembangkan pembawaannya, kemampuan-kemampuannya, dan kecenderungan-kecenderungannya.

Pendidikan harus dijauhkan dalam perkembangan anak karena hal itu berarti dapat menjauhkan anak dari segala hal yang bersifat dibuat-buat dan dapat membawa anak kembali ke alam untuk mempertahankan segala yang baik.

d. Aliran Konvergensi

Perintis aliran ini adalah William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan kedunia ini sudah disertai pembawaah baik maupun pembawaan buruk. Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu anak dilahirkan tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang baik sesuai dengan perkembangan bakat itu.Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak dapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu. Sebagai contoh, hakikat kemampuan anak berbahasa dengan kata-kata, adalah juga hasil dari konvergensi. Pada akan manusia ada pembawaan untuk berbicara melalui situasi lingkungannya, anak berbicara dalam bahasa tertentu. Lingkungan pun mempengaruhi anak didik dalam mengembangkan pembawaan bahasanya. Karena itu setiap anak manusia mula-mula menggunakan bahasa lingkungannya. Missal bahasa jawa, sunda, bahasa inggris, bahasa jerman dan lain sebaginya. Kemampuan dua orang anak (yang tinggal dalam lingkungan yang sama ) untuk mempelajari bahasa mungkin tidak sama. Itu disebabkan oleh factor kualitas pembawaan dan perbedaan situasi lingkungan, biar pun lingkungan kedua anak tersebut menggunakan bahasa yang sama. Willianm Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantug pada pembawan dan lingkungan, seakan-akan dua garis yang menuju kesatu titik pertemuan sebagai berikut

Keterangan :

a. pembawaan

b. lingkungan

c. hasil pendidikan/ perkembngan

Karena itu teori W. Stern disebut teori konvergensi ( konvergen artinya memusat kesatu titik). Jadi menurut teori konvergensi :

1) Pendidikan mungkin dilaksanakan.

2) Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anaka didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik.

3) Yang membatasi hasil pendidika adalah pembawaan dan lingkungan.

Aliran konvergen pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memaha,mi tumbuh kembang manusia. Meskipun demikian terdapatg variasi mengenai factor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuhh kembang itu. Seperti telah dikemukakan bahwa variasi-variasi itu tersecrmin antara lain dalam perbedaan pandangan tentang strategi yang tepat untuk memahami perilaku manusia, seperti strategi disposisional/konstitusional, startegi phenomenologis/humanistic, startegi behavior, startegi psikodinamik/psiko analitik, dan sebagainya. Demikian pula halnya dalam belajar mengajar; variasi pendapat itu telah menyebabkan muncunya berbagai teori belajar mengajar dan atau teori/model mengajar. Sebagai contoh dikenal berbagai pendapat tentang model-model mengajar seperti rumpun model behavior ( umpan model belajar tuntas, model belajar control diri sendiri, model belajar simulasi, dan model belajar asertif), model belajar pemmrosesan informasi ( model belajar inkuiri, model persentase kerangka dasar, atau advance organizer, dan model pengembangan berfikir), dan lain-lain. Dari sisi-sisi lain, variasi pendapat itu juga melahirkan berbagai pendapat gagasan tentang belajar mengajar, seperti peran guru sebagai fasilitator atau informatory, teknik penilaian pencapaian siswa dengan tges objektif atau tes esai, perumusan tujuan pengajaran yang sangat behavior, penekanan pada peran teknologi pengajaran.

III. PENUTUP

Teori-teori yang terdapat dalam ilmu pendidikan dilahirkan oleh 4 aliran yang berbeda, yaitu:

  1. Aliran Empirisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan stimulasi ekternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan.
  2. Aliran Nativisme bertolak dari Leibnitzian Tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan, teramasuk faktor pendidikan kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Hasil perkembangan tsb ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperoleh sejak lahir.
  3. Aliran Naturalisme menyatakan bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan buruk. Pembawaan baik anak akan menjadi rusak karena dipengaruhi oleh lingkungan
  4. Aliran Konvergensi Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting.

DAFTAR PUSTAKA

La sulo, L dan Tirtarahardja. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta. PT Rineka Cipta.

Patmowiharjo, S. 2002. Psikologi Belajar Mengajar. Jakarta. Universitas Terbuka

Sudarmi. 2007. Landasan Filsafat Ilmu Pendidikan. Kalimantan. Blog Pendidikan google.com

herling

A. Pengertian

Dalam setiap manusia pasti memiliki perbedaan yang tidak mungkin dimiliki manusia lainnya. Dan hal itu ternyata bergantung terhadap hereditas yang ada dalam dirinya sendiri. Karena dalam setiap hereditas pasti terdapat ciri-ciri yang dibawanya dari orang tua mereka. Perbedaan inilah yang membedakan antara manusia yang lainnya dengan manusia yang lainnya.

Hereditas sendiri dapat diartikan sebagai pewarisan atau pemindahan biologis karakteristik individu dari pihak orang tuanya dan hal ini melalui proses genetis[1]. Hereditas yang terjadi pada manusia adalah adanya warisan specific genes yang berasal dari orang tua. Genes terhimpun atas beberapa kromosom (colored bodies) yang berasal dari ayah dan ibu mereka. Dari dua anggota yaitu ayah dan ibu terdapat kromosom yang didalamnya ada sejumlah genes yang membawa sifat tertentu dan kemudian menyatu membentuk senyawa yang memiliki sifat-sifat tertentu pula.

Lalu mulailah terjadi pembuahan didalam indung telur yang telah bertemu dengan sperma. Dalam perkembangannya terpisahlah sel yang ada dalam indung telur mulai dengan dua-dua. Pemisahan ini terus terjadi sampai membentuk organ-organ yang dibutuhkan untuk menjadi manusia seutuhnya. Pemisahan ini dalam ilmu biologi disebut dengan mitosis.

Semua itu karena adanya proses individuasi dan diferensiasi yang sangat identik dengan hereditas. Diferensiasi berupa pembetukan organ yang secara fisik terdapat pada diri manusia sebenarnya. Dan pembentukan diferensiasinya sangat tergantung kepada sifat dan interkasi lingkungan sekuler yang sering disebut dengan differential gradients (kekuatan-kekuatan pengarah organisme)[2]. Setelah itu mulailah pembentukan fungsi benih yang nantinya akan membedakan antara laki-laki dan perempuan proses ini disebut dengan meiosis. Dalam prosesnya aka nada pembentukan sperma dan indung telur dalam tubuh calon manusia yang akan lahir di dunia.

Oleh karenanya jika manusia yang berlainan jenis ini melakukan perkawinan maka akan terjadi proses genetis seperti penjelasan diatas. Proses terjadi karena adanya pertemuan antara kromosom-kromoson dari dua jenis yang berbeda. Kromosom yang bertemu ada 24 kromosom dan bercampurlah kromosom-kromosom itu. Akibat dari bertemunya kromosom itu maka akan terbentuk sifat genes yang dibawa dari dua manusia berlainan jenis dan terbentuklah sifat genes yang baru terhadap individu baru[3].

Lingkungan banyak diartikan secara sempit karena pengetahuan terhadap lingkungan sangatlah minim. Mereka menganggap bahwa lingkungan hanya ada di sekitar mereka saja. Tapi sebenarnya lingkungan itu adalah mencakup segala yang ada dalam kehidupan manusia secara material dan stimuli baik yang di dalam dan di luar individu. Baik yang berupa fisiologis, psikologis maupun sosio-cultural. Secara fisiologis lingkungan menyangkut jasmaniah yang ada dalam tubuh seperti gizi, vitamin dan lainnya. Lalu yang secara psikologis menyangkut berbagai stimulasi yang sudah dibawa sejak mereka di dalam kandungan bahkan saat mereka sudah di luar seperti kebutuhan ataupun yang berhubungan dengan sifat-sifatnya. Sedangkan yang sosio-kultural adalah berupa hubungan dengan lingkungan sekitar berupa interaksi maupun yang lainnya[4].

Dengan semakin luasnya pengertian dari lingkungan bukannya mudah untuk memahami tapi malah tambah rumit bagi masyarakat yang sudah terlanjur berpikir secara sempit. Karena terjadi kesamaan antara hereditas dan lingkungan meski ada perbedaan antara keduanya. Ada juga yang menganggap bahwa hereditas sama dengan persamaan parental disebabkan adanya pewarisan dari orang tua terhadap anak mereka. Tapi tidak semuanya bergantung terhadap pewarisan sifat tapi bisa juga adanya modifikasi sifat yang ada dalam lingkungannya. Sehingga mengakibatkan perubahan terhadap sifat yang ada dalam diri manusia itu sendiri.

Ilmuwan Abbot Gregor Mendel (1857), Austria seorang biarawan. Dia melakukan penelitian terhadap kacang-kacangan yang warnanya berbeda antara yang satu dengan lainnya. Kemudian dia mencoba mengawinkan kacang yang berwarna merah dengan yang warna putih. Hasilnya diketahui bahwa adanya perubahan sifat pada bunga yang dihasilkan oleh perkawinan silang itu. Perbedaan ini disebabkan adanya element (gen) yang ada dalam kedua kacang berbeda. Ketika keduanya dikawinkan terjadilah pertukaran gen yang sama pada kedua kacang itu. Setelah melakukan pertukaran maka proses untuk perubahan pun dilakukan. Dimana yang dominan akan menang, semboyan ini seperti sudah mendarah daging bahkan dalam kehidupan politik bukan ilmu pengetahuan saja.

Ternyata dominanlah yang menentukan sifat apa yang akan dibawa oleh individu baru yang akan keluar. Jadi hereditas sangat berpengaruh terhadap kehidupan setiap individu baik manusia maupun makhluk hidup lainnya. Sehingga dia mengeluarkan hukum Mendel yang kebanyakan diterapkan dalam ilmu biologi yang membahas gen. Setelah beberapa tahun tidak ada yang menggunakan hukum Mendel maka ada seorang ilmuwan yang coba menguji kebenaran penelitian Mendel. Ilmuwan itu adalah Prof. Thomas Hunt Morgan yang telah mencoba memberikan kebenaran hasil dari penelitian Mendel. Penelitiannya melalui lalat yang telah mengalami perkembangan begitu lama meski bukan merupakan mamalia. Ternyata hasilnya sama dengan hasil penelitiannya Mendel yang menggunakan anak manusia dengan anak simpanse[5].

B. Pengaruh Hereditas dan Lingkungan

Untuk yang pertama adalah bagaimana pengaruh hereditas terhadap pertumbuhan manusia. Ada banyak hal yang dapat disimpulkan dari penjelasan di atas seperti sifat pribadi manusia pada umumnya bergantung pada pengaruh kombinasi genes. Dalam sel-sel ayah dan ibu mereka ada bermacam-macam sel dikarenakan adanya pembiakan sel lalu sel-sel itu bertemu dan berinteraksi menghasilkan organisme baru yang memiliki sifat yang berbeda antara ibu dan ayah mereka.

Meski kata orang bahwa kakak beradik itu pasti punya sifat yang sama tapi pada kenyataanya pasti memiliki perbedaan karena tingkat hereditas yang berbeda. Dalam saudara kembar ada pembagian yaitu Fraternal twins (kembar tumbuh dari sel telur berbeda) dan Indentical twins (kembar dari satu sel telur)[6].

Tapi jika penentuan kembar tidak melihat cara lahirnya maka akan lebih mendekati indentical twins. Pada umumnya kembar itu terdapat dalam satu sel telur saja makanya didalamnya terdapat genes yang sama pula. Dengan demikian kembar ini lebih disebut sebagai duplikat yang sempurna tapi meski sempurna hereditas dalam tubuhnya tetap mengalami perbedaan.

Untuk menggambarkan penjelasan mengenai mekanisme hereditas adalah adanya interaksi factor yang dalam pasangan genes. Hal ini dapat diterangkan dalam banyaknya kasus tentang gen seperti albino, kebutaan, kebotakan,dan yang lainnya. Biasanya itu terjadi karena adanya factor hereditas pada orang tua mereka. Jika orang tua keduanya membawa genes untuk albino maka keturunanya akan mengalami albino (kulit bule). Bila normal maka yang dibawa adalah pigmen asli atau normal (CC). Jika hanya salah satu yang membawa maka sebagian kulitnya akan mengalami bule atau albino (Cc) individu ini disebut dengan heterozygous. Individu pigmen normal dan albino disebut dengan individu yang homozygous[7].

Individu laki-laki dan perempuan ditentukan sepasang kromosom yang disebut the sex chromosomes. Dan dalam setiap kromosom ada pembagian yaitu kromosom X dan Y ini dimiliki oleh ayah sedangkan pihak ibu hanya memiliki kromosom X saja. Untuk memperoleh keturunan perempuan maka kromosom X dari ayah dan X dari ibu bertemu. Jika ingin memiliki laki-laki maka kromosom yang bertemu dengan kromosom ibu adalah kromosom ayah yang Y. oleh karenanya penentuan ada tidaknya anak laki-laki yang dimiliki sebuah keluarga bergantung dari ada tidaknya pengaruh kromosom Y dari ayah.

Dalam perkembangan selanjutnya setiap individu pasti memiliki genes tersendiri. Dan genes itu berguna untuk menentukan bagaimana perkembangan individu selanjutnya. Jika kromosom X yang dimiliki lebih dominan maka akan tumbuh sifat wanitanya yang kuat. Sebaliknya jika yang Y maka kelelakiannya akan tumbuh dengan pesat. Makanya ada istilah waria ( wanita pria ) dan prinita ( pria wanita ) dikarenakan adanya hal itu. Semua hal yang berhubungan dengan fisik seorang individu pasti tidak lepas dari pengaruh hereditas.

Kemudian pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan yang sekarang banyak diperbincangkan. Karena tidak semua hal yang ada dalam setiap individu dipengaruhi oleh hereditas semata. Melainkan ada hal lainnya yang mempengaruhinya yaitu lingkungan, lingkungan alam yang membentuk keajaiban dalam proses hereditas. Oleh karenanya lingkungan punya andil besar dalam pembentukan sel-sel germ (pembenihan) serta proses selanjutnya nanti.

Setiap individu dalam perkembangannya mempunyai tingkah laku yang telah dibawanya sejak lahir. Tingkah laku itu adalah insting (aktivitas menuruti kodrat/nafsu tidak ada belajar), habits (kebiasaan yang berulang-ulang/hasil latihan), native behavior (pembawaan mengikuti hereditas), dan acquired behavior (didapat dari hasil belajar). Dan kesemuanya itu sangat dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan yang ada dalam kehidupan setiap individu[8].

Demikian hereditas dan lingkungan adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan lainnya. Mereka saling melengkapi dan saling mengisi celah yang ada dalam kehidupan manusia pada umumnya. Oleh karenanya pertumbuhan individu tidak lepas dari pengaruh hereditas dan lingkungan. Yang pengaruhnya tidak terlihat secara nyata tapi hanya dapat dirasakan dalam diri mereka masing-masing.

Pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap perkembangan individual. Dalam setiap perkembangan individu hereditas dan lingkungan tidak pernah lepas dalam kehidupannya. Interaksi antara genes adalah salah satunya, di dalam interaksi hereditas sangat mempengaruhi karena genes antara individu yang satu dengan lainnya sangat berbeda. Sehingga pewarisan suatu sifat tertentu kadang ditentukan oleh genes yang mereka miliki. Sifat yang diwariskan melalui hereditas adalah seperti tumbuhnya kumis, jenggot, dan lainnya yang berhubungan dengan fisik individu itu sendiri. Sedangkan oleh lingkungan pengaruhnya adalah terletak pada sifat dia menghadapi kehidupan seperti hubungannya dengan masyarakat sekitar atau pengaruh alam ketika dalam masa pembenihan.

Hereditas dan lingkungan adalah dua hal yang saling berkaitan serta sangat penting bagi kehidupan setiap individu. Dalam penelitian jika seorang mahasiswa ingin meneliti seseorang jangan hanya melihat factor hereditasnya tapi juga factor lingkungannya. Dengan melihat keduanya maka akan dapat ditemukan sebuah jawaban sebuah pertanyaan tentang individu yang sedang diteliti. Sifat-sifat yang diturunkan melalui hereditas akan sangat sulit dirubah karena sifat itu sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Beda lagi dengan lingkungan yang mudah untuk diubah karena merupakan hasil belajar dari pengalaman yang dia alami sendiri. Oleh karenanya individu selalu berubah-ubah sesuai dengan lingkungannya.

Perkembangan yang dipengaruhi meliputi pewarisan sifat genius, pertumbuhan mental dan pertumbuhan anak kembar. Pewarisan genius menurut Francis Galton adalah merupakan pewarisan dari hereditas. Hal ini dia peroleh dari hasil penelitian yang dilakukannya terhadap beberapa keluarga. Para psikolog pun akhirnya tidak setuju, menurut mereka Galton lalai dalam melakukan penelitian. Psikolog itu adalah A. de Candolle, dia berpendapat bahwa yang mempengaruhi adalah factor lingkungan bukan hereditas. Hal ini didukung oleh Henry H. Goddard (1912) yang telah membuktikan pendapat dari Candolle.

Pertumbuhan mental adalah hal yang perlu diteliti karena sangat mempengaruhi pada individu. Seorang ilmuwan yang sudah melakukan penelitian yaitu Winthrop N. Kellogg. Dia melakukan penelitian terhadap anak yang berusia 10 bulan dan anak simpanse yang berumur 7,5 bulan. Setelah melakukan penelitian yang cukup lama, Kellog telah menemukan jawabannya. Perkembangan mental simpanse dengan manusia ternyata lebih cepat pada masa itu. Lalu dalam perkembangan selanjutnya simpanse mengalami penurunan berganti yang anak manusia lebih cepat berkembang. Hal ini membuktikan bahwa adanya pengaruh hereditas terhadap perkembangan individu dalam setiap kehidupannya.

Kemudian penelitian yang dilakukan terhadap anak kembar. Hal ini telah dilakukan oleh seorang ilmuwan yang bernama Edward L. Thorndike. Dia melakukan penelitian terhadap anak kembar sebanyak 50 pasang anak. Setelah diadakannya penelitian itu ternyata dapat disimpulkan bahwa nilai yang didapat hampir sama. Tes juga diberikan kepada anak yang tidak kembar juga, dan ternyata hasilnya lebih baik yang ada dalam kembar. Hal ini membuktikan bahwa hereditas sangatlah mempengaruhi pertumbuhan kemampuan si anak dalam pembelajarannya. Penelitian ini juga dilakukan oleh Wingfield Holzinger dan Mc. Nemar hasilnya pun sama dengan yang didapat oleh Edward[9].

C. Pandangan tentang Hereditas dan Lingkungan

Dalam penjelasan diatas telah dikatakan bahwa banyak sekali ilmuwan yang telah melakukan penelitian terhadap hereditas dan lingkungan. Mereka telah memberikan pendapat dan argument mereka sendiri . pendapat yang diberikan bukanlah hal yang dikarang maupun hanya kata-kata belaka tapi perkataan mereka adalah hasil dari penelitian yang telah dilakukan selama mungkin dan seakurat mungkin. Sehingga didapatkan hasil yang memuaskan bagi mereka sendiri juga bagi masyarakat yang telah mempercayainya. Menurut pendapat ilmuwan tentang pengertian diatas bahwa yang paling berpengaruh dalam perkembangan manusia bukan lingkungan tapi pembawaan (Aliran Nativisme oleh Schoppenhour filosof dari Jerman) sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa yang paling berpengaruh adalah lingkungan bukanlah bawaan (Aliran Empirisme oleh John Lock seorang filosof dan pskilog dari Inggris). Tapi sebenarnya keduanya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan karena saling melengkapi antara yang satu dengan lainnya[10].

Dalam penjelasannya yang sama dengan keterangan diatas yaitu adanya gabungan antara dua aliran itu. Yaitu Aliran Konvergensi adalah aliran yang menganggap bahwa lingkungan dan hereditas adalah sesuatu yang saling melengkapi. Hereditas adalah sesuatu yang berhubungan dengan keturunan yang tidak lepas dari pengaruh lingkungan alam baik yang disekitar maupun lainnya. Sifat yang dibawa sejak lahir sebagian besar tidak bisa diubah beda dengan lingkungan yang banyak diubah.

Dalam perkembangannya hereditas dan lingkungan mempunyai sumbangan dalam kehidupan yaitu dalam bidang pertumbuhan dan perkembangbiakan, pertumbuhan dan perkembangan mental, kesehatan mental dan emosi serta kepribadian, dan sikap-sikap, keyakinan, serta nilai-nilai.

Dalam hereditas dan lingkungan banyak sekali hukum yang berhubungan dengan masalah ini. Seperti hukum reproduksi (oleh August Weismann yang mengatakan bahwa setiap individu sudah memiliki perbedaan sifat yang telah diwariskan kepadanya), hukum konformitet (bahwa makhluk hidup bergantung pada apa yang telah mereka miliki sejak dilahirkan. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan hidup yang ada dalam sekitar mereka. Tapi sifatnya tidak akan berubah karena adanya sifat dasar yang telah mereka bawa sejak mereka lahir), hukum variasi (bahwa individu akan memiliki sifat yang bervariasi dengan orang lain karena factor hereditas dan lingkungannya), dan hukum regresi fasial yang bertentangan dengan hukum konformit[11].

Hubungan antara individu dengan lingkunganya sangatlah erat sekali karena tanpanya lingkungan seorang individu tidak akan bisa bertahan hidup. Lingkungan itu bisa berupa lingkungan fisik juga bisa berupa lingkungan social. Lingkungan fisik berupa alam sekitarnya yang sering kita lihat setiap hari, sedangkan lingkungan social adalah hubungan kita dengan masyarakat sekitar. Dalam lingkungan social pun dibagi menjadi dua yaitu primer dan sekunder. Hubungan yang primer adalah hubungan dengan masyarakat sangatlah erat sekali bahkan kita dapat memahami seperti apa masyarakat itu, bagaimana kehidupannya. Sedangkan sekunder adalah hubungan yang sekedar hubungan karena kurang eratnya hubungan dengan masyarakat sekitar kita.

Dengan kurang eratnya dengan masyarakat maka kita tidak akan bisa menerima apa yang ada dalam masyarakat. Bahkan kita tidak akan dapat memberikan sesuatu yang baru karean takut menyakiti hati mereka. Keakraban dalam masyarakat perlu ditanamkan kepada anak sejak mereka kecil agar hubungan masyarakat tidak renggang antara individu yang satu dengan lainnya.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat kelompok kami berikan adalah bahwa hereditas dan lingkungan mempunyai hubungan yang erat. Keduanya saling melengkapi tidak ada yang bisa memisahkan. Jika ada hereditas maka harus ada lingkungan baik fisik maupun social. Hereditas sangat ditentukan oleh factor keturunan atau pewarisan yang ada dalam genes mereka. Sedangkan, lingkungan hanya akan mempengaruhi pribadi mereka saja yaitu yang luar saja. Dikarenakan di lingkungan hanya memberikan apa yang dapat mereka lakukan untuk melalui kehidupan agar dapat bertahan hidup.

Pengaruhnya terhadap individu juga sangat besar sekali. Terutama hereditas yang kebanyakan ada individu yang mengalami kecacatan ketika mereka lahir. Kecacatan ini disebabkan ketika ibu mereka hamil kurangnya asupan gizi yang masuk juga karena tingkat emosi yang tinggi. Dengan adanya tingkat emosi yang tinggi maka asupan makanan dan nutrisi akan sedikit terhambat. Lingkungan hanya akan memberikan pengaruh terhadap individu pada saat mereka sudah siap untuk menerimanya. Jika belum maka hasilpun akan sama dengan hereditas akan adanya kecacatan dalam sifat pribadinya.

Oleh karenanya ilmuwan kemudian memberikan pendapat mereka agar pembaca mau mengikuti pendapat mereka. Pendapat yang diungkapkan itu adalah hasil penelitian yang telah mengalami banyak jalan berliku. Juga telah mendapat persetujuan dari semua orang yang telah mempercayainya. Hukum yang mengatur tentang hereditas dan lingkungan pun banyak ditelorkan. Bahkan banyak yang menjadi acuan dalam ilmu biologi terutama dalam bidang masalah gen. karena hukum itu sangatlah akurat dan tepat untuk digunakan.

B. Penutup

Alhamdulillah kami ucapkan karena dengan karunia-Nya, makalah yang dibuat dapat selesai sesuai harapan. Materi yang penyusun dapat berasal dari buku-buku yang relevan dengan masalah ini. Bahkan yang mempunyai sedikit hubungan dengan masalah inipun akan penyusun gunakan. Karenanya referensi yang digunakan penyusun masih dalam tahap yang kecil belum menuju sempurna. Ucapan terima kasih juga penyusun berikan kepada pembimbing mata kuliah ini karena tanpanya kami tidak akan dapat menyelesaikan makalah ini.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, apabila ada kata yang salah atau ada salah dalam penulisannya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tanpa adanya rasa maaf dari para pembaca makalah ini tidak akan menjadi sebuah pedoman atau referensi. Ktirik dan saran juga masih kami tunggu agar makalah ini bisa menjadi makalah yang baik. Amin

DAFTAR PUSTAKA

Wasty Soemanto, 1990, Psikologi pendidikan, Rineka Cipta : Jakarta

Tutik Hartati, 2003, Biologi 2 SMP, Erlangga : Surabaya

Soemanto, 2007, Sosiologi 2 SMA, Erlangga : Surabaya

Mustaqim, Abdul Wahib, 2003, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta

Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, PT. Andi : Yogyakarta


[1] Wasty Soemanto, 1990, Psikologi pendidikan, Rineka Cipta : Jakarta. Hal. 78

[2] Ibid. hal. 79

[3] Tutik Hartati, 2003, Biologi 2 SMP, Erlangga : Surabaya. Hal. 108

[4] Soemanto, 2007, Sosiologi 2 SMA, Erlangga : Surabaya. Hal. 80

[5] Op.cit. Wasty. Hal. 82

[6] Op.cit. Wasty. Hal. 86

[7] Op.cit. Tutik. Hal. 145

[8] Op.cit. Wasty. Hal.88

[9] Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, PT. Andi : Yogyakarta. Hal. 78

[10] Mustaqim, Abdul Wahib, 2003, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta hal. 10

[11] Ibid. Mustaqim”. Hal. 18-21

Minggu, 08 Mei 2011

batal wudhu

Berikut adalah beberapa pembatal wudhu berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian.
Pembatal pertama: Kencing, buang air besar, dan kentut
Dalil bahwa kencing dan buang air besar merupakan pembatal wudhu dapat dilihat pada firman Allah Ta’ala,
أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ
“Atau kembali dari tempat buang air (kakus).”[1] Yang dimaksud dengan al ghoith dalam ayat ini secara bahasa bermakna tanah yang rendah yang luas.[2] Al ghoith juga adalah kata kiasan (majaz) untuk tempat buang air (kakus) dan lebih sering digunakan untuk makna majaz ini.[3]
Para ulama sepakat bahwa wudhu menjadi batal jika keluar kencing dan buang air besar dari jalan depan atau pun belakang.[4]
Sedangkan dalil bahwa kentut (baik dengan bersuara atau pun tidak) membatalkan wudhu adalah hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ » . قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ
“Shalat seseorang yang berhadats tidak akan diterima sampai ia berwudhu.” Lalu ada orang dari Hadhromaut mengatakan, “Apa yang dimaksud hadats, wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah pun menjawab,
فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ
“Di antaranya adalah kentut tanpa suara atau kentut dengan suara.”[5] Para ulama pun sepakat bahwa kentut termasuk pembatal wudhu.[6]
Pembatal kedua: Keluarnya mani, wadi, dan madzi
Apa yang dimaksud mani, wadi dan madzi?
Wadi adalah sesuatu yang keluar sesudah kencing pada umumnya, berwarna putih, tebal mirip mani, namun berbeda kekeruhannya dengan mani. Wadi tidak memiliki bau yang khas.
Sedangkan madzi adalah cairan berwarna putih, tipis, lengket, keluar ketika bercumbu rayu atau ketika membayangkan jima’ (bersetubuh) atau ketika berkeinginan untuk jima’. Madzi tidak menyebabkan lemas dan terkadang keluar tanpa terasa yaitu keluar ketika muqoddimah syahwat. Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa memiliki madzi.[7]
Madzi dan wadi najis. Sedangkan mani -menurut pendapat yang lebih kuat- termasuk zat yang suci. Cara mensucikan pakaian yang terkena madzi dan wadi adalah dengan cara diperciki. Sedangkan mani cukup dengan dikerik.
Jika keluar mani, maka seseorang diwajibkan untuk mandi. Mani bisa membatalkan wudhu berdasarkan kesepakatan para ulama dan segala sesuatu yang menyebabkan mandi termasuk pembatal wudhu.[8]
Madzi bisa membatalkan wudhu berdasarkan hadits tentang cerita ‘Ali bin Abi Tholib. ‘Ali mengatakan,
كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِى أَنْ أَسْأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ « يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ ».
“Aku termausk orang yang sering keluar madzi. Namun aku malu menanyakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallm dikarenakan kedudukan anaknya (Fatimah) di sisiku. Lalu aku pun memerintahkan pada Al Miqdad bin Al Aswad untuk bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau memberikan jawaban pada Al Miqdad, “Cucilah kemaluannya kemudian suruh ia berwudhu”.”[9]
Sedangkan wadi semisal dengan madzi sehingga perlakuannya sama dengan madzi.
Ibnu ‘Abbas mengatakan,
الْمَنِىُّ وَالْمَذْىُ وَالْوَدْىُ ، أَمَّا الْمَنِىُّ فَهُوَ الَّذِى مِنْهُ الْغُسْلُ ، وَأَمَّا الْوَدْىُ وَالْمَذْىُ فَقَالَ : اغْسِلْ ذَكَرَكَ أَوْ مَذَاكِيرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ.
“Mengenai mani, madzi dan wadi; adapun mani, maka diharuskan untuk mandi. Sedangkan wadi dan madzi, Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Cucilah kemaluanmu, lantas berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat.”[10]
Pembatal ketiga: Tidur Lelap (Dalam Keadaan Tidak Sadar)
Tidur yang membatalkan wudhu adalah tidur lelap yang tidak lagi dalam keadaan sadar. Maksudnya, ia tidak lagi mendengar suara, atau tidak merasakan lagi sesuatu jatuh dari tangannya, atau tidak merasakan air liur yang menetes. Tidur seperti inilah yang membatalkan wudhu, baik tidurnya dalam keadaan berdiri, berbaring, ruku’ atau sujud. Karena tidur semacam ini yang dianggap mazhonnatu lil hadats, yaitu kemungkinan muncul hadats.
Sedangkan tidur yang hanya sesaat yang dalam keadaan kantuk, masih sadar dan masih merasakan merasakan apa-apa, maka tidur semacam ini tidak membatalkan wudhu. Inilah pendapat yang bisa menggabungkan dalil-dalil yang ada.
Di antara dalil hal ini adalah hadits dari Anas bin Malik,
أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَالنَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُنَاجِى رَجُلاً فَلَمْ يَزَلْ يُنَاجِيهِ حَتَّى نَامَ أَصْحَابُهُ ثُمَّ جَاءَ فَصَلَّى بِهِمْ.
“Ketika shalat hendak ditegakkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbisik-bisik dengan seseorang. Beliau terus berbisik-bisik dengannya hingga para sahabat tertidur. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun datang dan shalat bersama mereka.”[11]
Qotadah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Anas berkata,
كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنَامُونَ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلاَ يَتَوَضَّئُونَ قَالَ قُلْتُ سَمِعْتَهُ مِنْ أَنَسٍ قَالَ إِى وَاللَّهِ.
“Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ketiduran kemudian mereka pun melakukan shalat, tanpa berwudhu lagi.” Ada yang mengatakan, “Benarkah engkau mendengar hal ini dari Anas?” Qotadah, “Iya betul. Demi Allah.”[12]
Pembatal keempat: Hilangnya akal karena mabuk, pingsan dan gila. Ini berdasarkan ijma’ (kesepakatan para ulama). Hilang kesadaran pada kondisi semacam ini tentu lebih parah dari tidur.[13]
Pembatal kelima: Memakan daging unta.
Dalilnya adalah hadist dari Jabir bin Samuroh,
أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ « إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلاَ تَوَضَّأْ ». قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ قَالَ « نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ ».
“Ada seseorang yang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah aku mesti berwudhu setelah memakan daging kambing?” Beliau bersabda, “Jika engkau mau, berwudhulah. Namun jika enggan, maka tidak mengapa engkau tidak berwudhu.” Orang tadi bertanya lagi, “ Apakah seseorang mesti berwudhu setelah memakan daging unta?” Beliau bersabda, “Iya, engkau harus berwudhu setelah memakan daging unta.”[14]
Demikian pembahasan mengenai pembatal wudhu. Sebagian lainnya adalah pembatal wudhu yang masih diperselisihkan di antara para ulama. Insya Allah sebagian lainnya yang dianggap sebagai pembatal wudhu akan kami kupas dalam artikel selanjutnya. Semoga bermanfaat.
------------------------------------------------------------------------------------------
[1] QS. Al Maidah: 6
[2] Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 2/244, Asy Syamilah
[3] Lihat Al Mugni, Ibnu Qudamah, Al Maqdisi, 1/195, Darul Fikri, Beirut.
[4] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, 1/127, Al Maktabah At Taufiqiyah.
[5] HR. Bukhari no. 135.
[6] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/128.
[7] Lihat Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’, 5/383, pertanyaan kedua dari fatwa no.4262, Mawqi’ Al Ifta’.
[8] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/128.
[9] HR. Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303.
[10] HR. Al Baihaqi no. 771. Syaikh Abu Malik -penulis Shahih Fiqh Sunnah- mengatakan bahwa sanad riwayat inishahih.
[11] HR. Muslim no. 376.
[12] HR. Muslim no. 376.
[13] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/133.
[14] HR. Muslim no. 360.

Rabu, 20 April 2011

makalah filsafat ilmu

FILSAFAT ILMU DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA

PENGARANG : Drs. SURAJIYO

Tugas ini dibuat sebagai

Tugas akhir semester pendek

Pada mata kuliah filsafat ilmu

DI TULIS KEMBALI (RESUME)

OLEH:

AL’ARAS 06 14 003

DOSEN PEMBIMBING:

Drs. Suyitno, M.Ag

FAKULTAS SYARIAH

JURUSAN AL-AHWAL AL-SYAKHSYIYYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH

PALEMBANG

2008

PRAKATA

Filsafat ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaiknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Kelahiran filsafat di Yunani menunjukkan pola pemikiran bangsa Yunani dari pandangan mitologi akhirnya lenyap dan pada gilirannya rasiolah yang dominan.

Perubahan dari pola pikir mite-mite kerasio membawa implikasi yang tidak kecil. Alam dengan segala gejalanya, yang selama itu ditakuti kemudian didekati dan bahkan bisa dikuasai. Perubahan yang mendasar adalah ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik alam semesta maupun pada manusia sendiri.

Maret, 2007

Penulis

DAFTAR ISI

PRAKATA -------------------------------------------------------------------------------------------------

KATA PENGANTAR-----------------------------------------------------------------------------------

Bagian Pertama:

PENGENALAN FILSAFAT ILMU

BAB I PENGANTAR FILSAFAT-------------------------------------------------------------------- 3

A. Pengertian Filsafat ------------------------------------------------------------------ 3

B. Objek Filsafat----------------------------------------------------------------------- 7

C. Metode Filsafat--------------------------------------------------------------------- 9

D. Ciri-ciri Filsafat--------------------------------------------------------------------- 14

E. Asal dan Peranan Filsafat------------------------------------------------------------ 16

F. Kegunaan Filsafat------------------------------------------------------------------- 18

G. Pembagian (Cabang-cabang Filsafat)------------------------------------------------ 20

FILSAFAT ILMU DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA

Oleh : Drs. Surajiyo

BAB I

Pengantar Ilmu Filsafat

A. Pengertian Filsafat

B. Objek Filsafat

1. Objek Material filsafat

Yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu atau hal yang di selidiki, di oandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakup apa saja baik hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak.

Menurut Drs. H.A.Dardiri bahwa objek material adalah segala sesuatu yang ada, baik yang ada dalam pikiran, ada dalam kenyataan maupun ada dalam kemungkinan. Segala sesuatu yang ada itu di bagi dua, yaitu :

a. Ada yang bersifat umum (ontologi), yakni ilmu yang menyelidiki tentang hal yang ada pada umumnya.

b. Ada yang bersifat khusus yang terbagi dua yaitu ada secara mutlak (theodicae) dan tidak mutlak yang terdiri dari manusia (antropologi metafisik) dan alam (kosmologi).

2. Objek Formal filsafat

Yaitu sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu di sorot.

Contoh : Objek materialnya adalah manusia dan manusia ini di tinjau dari sudut pandangan yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia di antaranya psikologi, antropologi, sosiologi dan lain sebagainya.

C. Metode Filsafat

Sebenarnya jumlah metode filsafat hampir sama banyaknya dengan defenisi dari para ahli dan filsuf sendiri karena metode ini adalah suatu alat pendekatan untuk mencapai hakikat sesuai dengan corak pandangan filsuf itu sendiri. Penjelasan secara singkat metode-metode filsafat yang khas adlah sebagai berikut:

1. Metode Kritis : Socrates dan plato

Metode ini bersifat analisis istilah dan pendapat atau aturan-aturan yang di kemukakan orang. Merupakan hermeneutika, yangmenjelaskan keyakinan dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak yang akhirnya di temukan hakikat.

2. Metode Intuitif : Plotinus dan bergson

Dengan jalan metode intropeksi intuitif dan dengan pemakaian simbol-simbol di usahakan membersihkan intelektual (bersama dengan pencucian moral), sehingga tercapai suatu penerangan pemikiran. Sedangkan bergson dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.

3. Metode Skolastik : aristoteles, thomas aquinas, filsafat abad pertengahan.

Metode ini bersifat sintetis-deduktif dengan bertitik tolak dari defenisi-defenisi atau prindip-prinsip yang jelas dengan sendirinya di tarik kesimpulan-kesimpulan.

4. Metode Geometris : rene descartes dan pengikutnya

Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks di capai intiuisi akan hakikat-hakikat sederhana (ide terang dan berbeda dari yang lain), dari hakikat-hakikat itu di dedukasikan secara matematis segala pengertian lainnya.

5. Metode Empiris :Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume

Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-ide ) dalam intropeksi di bandingkan dengan cerapan-cerapan (impresi) dan kemudian di susun bersama secara geometris.

6. Metode Transendental : Immanuel Kant dan Neo skolastik

Metode ini bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu dengan jalan analisis di selidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian demikian.

7. Metode fenomenologis : Husserl, Eksistensialisme

Yakni dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atau fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni. Fenomelogi adalah suatu aliran yang membicarakan tentang segala sesuatu yang menampakkan diri, atau yang membicarakan gejala. Hakikat segala sesuatu adalah reduksi atau penyaringan dan menurut Husserl ada tiga macam reduksi yaitu:

a. reduksi fenomologis, kita harus menyaring pengalaman-pengalaman kita agar mendapat fenomena semurni-murninya.

b. Reduksi eidetis.

c. Reduksi transendental

8. Metode Dialektis : Hegel dan Mark

Dengan jalan mengikuti dinamik pikiran atau alam sendiri menurut triade tesis, antitetis, sistesis di capai hakikat kenyataan. Dialektis itu di ungkapkan sebagai tiga langkah, yaitu dua pengertian yang bertentangan kemudian di damaikan (tesis-antitesis-sintesis).

9. Metode Non-positivistis

Kenyataan yang di pahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta).

10. Metode analitika bahasa : Wittgenstein

Dengan jalan analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis. Metode ini di nilai cukup netral sebab tidak sama sekali mengendalikan salah satu filsafat. Keistimewaannya adalah semua kesimpulan dan hasilnya senantiasa di dasarkan kepada penelitian bahasa yang logis.

D. Ciri-ciri Filsafat

Menurut Drs. Suyadi MP dan Drs. Sri suprapto widodonongrat ciri filsafat adalah menyeluruh, mendasar dan spekulatif. Sedangkan Sunoto menyebutkan ciri-cirinya adalah deskriptip, kritik atau analitik, evaluatif atau normativ, spekulatif dan sistematik.

E. Asal dan Peranan filsafat

1. Asal filsafat

Ada tiga peranan yang mendorong manusia untuk berfilsafat, yaitu:

a. Keheranan

b. Kesangsian

c. Kesadaran akan keterbatasan

2. Peranan filsafat

- Pendobrak

Berabad-abad lamanya intelektualitas manusia tertawan dalam penjara tradisi dan kebiasaan. Dalam penjara itu, manusia terlena dalam alam mistik yang penuh sesak dengan hal-hal serba rahasia yang terungkap lewat berbagai mitos dan mite. Keadaan tersebut berlangsung cukup lama dan kehadiran filsafat telah mendobrak pintu dan tembok tradisi yang begitu sakral yang selama itu tidak boleh digugat. Kendati pendobrakan itu membutuhkan waktu yang cukup panjang, kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa filsafat benar-benar telah berperan selaku pendobrak yang mencengangkan.

- Pembebas

Filsafat bukan hanya sekedar mendobrak pintu penjara tradisi dan kebiasaan yang penuh dengan berbagai mitos dan mite itu melainkan juga merenggut manusia keluar dari penjara itu. Filsafat membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan kebodohannya. Demikian pula filsafat membebaskan manusia dari belenggu cara berpikiryang mistis dan mitis.

- Pembimbing

Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang mistik mitis denganmembimbing manusiauntuk berpikir secara rasional. Membebaskan manusia dari cara berpikir yang picik dan dangkal dengan membbimbing untuk berpikir lebih luas dan mendalam.

F. Kegunaan filsafat

Pada umumnya dapat dikatakan bahawa dengan belajar filsafat semakin menjadikan orang mampu untuk menangani berbagai pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metodis ilmu-ilmu khusus. Jadi filsafat membantu untuk mendalami berbagai pertanyaan asasi manusia tentang makna realitas dan lingkup tanggung jawabnya. Kemampuan itu dipelajarinya dari dua jalur yakni secara sistematis dan historis.

G. Pembagian ( cabang-cabang) filsafat

Pembagian secara garis besar dapat dibagi kedalam dua kelompok, yakni filsafat sistematis dan sejarah filsafat. Filsafat sistematis bertujuan dalam pembentukan dan pemberian landasan pemikiran. Didalamnya meliputi logika, metodelogi, epistimologi, filsafat ilmu, etika, estetika metafisika, teologi (filsafat ketuhanan), filsafat manusia, dan kelompok filsafat khusus seperti filsafat sejarah, hukum, komunikasi dan lain-lain.

Adapun sejarah filsafat adalah bagian yang berusaha meninjau pemikiran filsafat sepanjang masa. Sejak zaman kuno hingga zaman modern, bagian ini meliputi sejarah filsafat yunani (barat), india, cina dan sejarah filsafat islam.

Berikut ini pengertian ari cabang-cabang filsafat yang utama:

- Logika, adala cabang filsafat yang menyelildiki lurus tidaknya pemikran kita. Lapamngan dalam logika adlah asa-asas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat dan sehat. Dengan mempelajari logika diharapkan dapat menerapkan asas bernalar sehingga dapat menaarik kesimpulan dengan tepat.

- Epistemologi, adlah bagian filasfat yang membicarakan tentang terjadinya pengetauan, sumber pengetahuan, asla mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan kesahihan pengetahuan.

- Etika, adlah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk.

- Estetika, adlah cabang filsafat yang membicarakan tentang keindahan

- Metafisika, adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada atau membicarakan sesuatu di sebalik yang tampak. Persoalan metafisis di bedakan menjadi tiga yaitu ontologi, kosmologi dan antropologi.

BAB II

FILSAFAT PENGETAHUAN (EPISTEMOLOGI)

A. Pengertian Epistemologi

B. Arti pengetahuan

Pengetahuan adlah suatu istilah yang di pergunakan untuk menuturkan apabila seseorang mengenal tentang sesuatu.suatu hal yang menjadi penggetahuannya adalah selalu terdiri atas unsur yang mengetahui dan diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahuinya itu.oleh karna itu penggetahuan selalu menuutut adanya subjek yang mempunyai kesdaran untuk mengetahui tentang sesuatu objek dan objek yang merupakan sesuatu yang dihadapinya sebagai hal ingin diketahuinya.jadi bisa dikatakan penggetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu,atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek yang dihadapinya,atau asil usaha manusia untuk memahami suatu objek.

C. Terjadinya suatu pengetahuan

Alat untuk mengetahui terjadinya penggetahuan menurut jhon horpers ada enam yaitu

1. Pengalaman indera

2. Nalar

3. Otoritas

4. Intuisi

5. Wahyu

6. Keyakinan

D. Jenis-jenis penggetahuan

Penggetahuan menurut Soejono Soemargono (1983) dapat dibagi atas : 1. Penggetahuan non-ilmiah.

2. Penggetahuan ilmiah

Sedangkan menurut plato dan aristoteles.plato membagi penggetahuan menurut tingkatan-tingkatan penggetahuan sesuai dengan karakteristik objeknya.pembagiannya adalah sebagai berikut :

1. Penggetahuan eikasia (khayalan)

2. Penggetahuan fistis

3. Penggetahuan dianoya(metematik)

4. Penggetahuan neosis(filsafat)

Aristoteles mempunyai pendapat yang berbeda, menurut aristoteles penggetahuan harus merupakan kenyataan yang dpat dihindari dan kenyataan adalah sesuatu yang merangsang budi kita kemudian mengolahnya.penggetahuan yang umumnya merupakan kumpulan yang dinamakan rational knowledge dipisahkan dalam 3 jenis kumpulan yaitu

(1) Penggetahuan produksi (seni)

(2) Penggetahuan praktis (etika, ekonomi, politik)

(3) Penggetahuan teoretis (fisika, matematika ,dan metafisika)

E. Asal usul penggetahuan

1. Aliran-aliran dalam penggetahuan

a. Rasoinalisme

Aliran ini berpendapat bahwa sumber penggetahuan yang mencukupi dan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal)

b. Empirisme

Aliran ini berpendapat, bahwa empiris atau pengalamlah yang menjadi sumber penggetahuan baik pengalaman yang batiniah maupun lahiriah.

c. Kritisme

Penyelesaian pertentangan antara rasionalisme danempirisme hnedak diselesaikan oleh umanuel kant dengan kritismenya.

d. Positivisme

Positivisme berpangkal dari apa yang telah di ketahui, yanng faktual dan yang positif.

2.Metode ilmiah

Menurut soejono soemargono (1983) metode ilmiah secara garis besar ada dua macam,yaitu sebagai berikut

a. Metode ilmiah yang bersifat umum

Metode ilmiah yang bersifat umum masih dapat dibagi dua,yaitu metode analitiko-sintesis dan metode nono deduksi

b. Metode penyelidikan ilmiah

Metode penyelidikan dibagi menjadi dua,yaitu metode penyelidikan yang berbentuk daur atau metode siklus empiris dan metode vertikal yang berbentuk garis lempang atau metode linier.

3.Sarana berpikir ilmiah

Sarana berpikir ilmiah pada dasarnya ada tiga yakni;

a. Bahasa ilmiah, yaitu kalimat berita yang merupakan suatu pernyataan atau pendapat-pendapat.

b. Bahasa logika dan matematika, merupakan dua pengetahuan yang selalu berhubungan erat, yang keduanya sebagai sarana berpikir deduktif. Baik logika maupun matematika lebihh mementingkan bentuk logis pernyataan-pernyataannya mempunyai sifat yang jelas.

c. Logika dan statistika, mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif untuk konsep yang berlaku umum.

BAB III

RUANG LINGKUP FILSAFAT ILMU

A. Pengertian filsafat ilmu

B. Objek filsafat ilmu

1. Objek Material Filsafat Ilmu

Objek material adalah objek yang di jadikan sasaran menyelidiki oleh suatu ilmu, atau objek yang yang di pelajari oleh ilmu itu. Objek material filsafat illmu adalah pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya secara umum.

2. Objek Formal Filsafat Ilmu

Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek materialnya. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fingsi ilmu itu bagi manusia. Problem inilah yang di bicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis.

C. Lingkupan filsafat ilmu menurut para filsuf

D. Problema filsafat ilmu

E. Manfaat belajar filsafat ilmu

1. Sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah.

2. Merupakan usaha merepleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metode keilmuan.

3. Memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan.

BAB IV

APA ITU ILMU PENGETAHUAN

A. Defenisi Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan di ambil dari bahasa inggris science, yang berasal dari bahasa latin scientie dari bentuk kata kerja scire yang berarti mempelajari, mengetahui.pertumbuhan selanjutnya pengertian ilmu mengalami perluasan arti sehingga menunjuk segenap pengetahuan sistematik. Adapun menurut Bahm defenisi ilmmu pengetahuan paling tidak melibatkan enam macam komponen yaitu masalah, sikap, metode, aktivitas, kesimpulan dan pengaruh.

B. Ciri-Ciri Ilmu Pengetahuan

C. Keragaman Dan Pengelompokan Ilmu Pengetahuan

Berikut ini merupakan penggolongan ilmu-ilmu, yaitu:

- Ilmu formal dan ilmu non formal (non empiris)

Dua contoh ilmu formal atau non empiris yaitu matematika dan filsafat.

- Ilmu murni dan ilmu terapan

Ilmu terapan atau praktis ialah ilmu yang bertujuan untuk di aplikasikan atau di ambil manfaatnya. Contoh : ilmu kedokteran

- Ilmu nomotesis dan idiografis

Yang termasuk ilmu nomotesis adlah ilmu-ilmu alam yang objeknya adlah gejala pengalaman yang dapat di ulangi terus menerus dan hanya merupakan kasus-kasus yang mempunyai hubungan dengan suatu hukum alam. Sedangkan ilmu idiografis yakni ilmu-ilmu budaya yang objeknya bersifat individual yang terjadi sekali untuk di pahami dan di mengerti menurut keunikannya.

- Ilmu deduktif dan induktif

Deduktif adalah proses pemikiran dimana akal budi manusia dari pengetahuan yang umum yang abstrak menyimpulkan hal yang bersifat khusus dan individual. Contoh : ilmu deduktif matematika sedangkan ilmu induktif adalah bertolak belakang dari ilmu deduktif yakni dari khusus menjadi umum dan abstrak.

- Naturwissenschaften dan geisteswissenschaften

- Ilmu-ilmu empiris secara lebih khusus

D. Susunan ilmu pengetahuan

1. langkah-langkah dalam ilmu pengetahuan :

- perumusan masalah, dirumuskan secara tepat dan jelas dalam bentuk pertanyaan agar ilmuwan mempunyai jalan unuttuk mengetahu fakta-fakta apa saja yang di kumpulkan.

- Pengamatan dan pengumpulan data (observasi)

- Pengamatan dan klasifikasi data

- Perumusan pengetahuan (defenisi)

- Tahap ramalan (prediksi)

- Pengujian kebenaran hipotesis

2. limas ilmu

3. siklus empiris

a. Observasi

b. Induksi

c. Deduksi

d. Kajian (eksperimentasi)

e. Hasil-hasil kajian membawa kepada ahap evaluasi yang di susun secara deduksi dan induksi.

4. penjelasan dan ramalan

a. penjelasan logis

b. penjelasan probabilistik

c. penjelasan finalistik

d. penjelasan historis atau genetik

e. penjelasan fungsional

untuk ramalan

E. Ilmu Dan Teknologi

F. Wujud ilmu

BAB V

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN

A. Pengantar

Pemikiran filsafat banyak dipengaruhi oleh lingkungan.namun pada dasarnya filsafat baik dibarat, india dan Cina muncul dari yang sifatnya religius. Pembagian secara periodesasi filsafat barat adalah zaman kuno, zaman abad pertengahan, zaman modern dan masa kini. Periodesasi filsafat cina adalah zaman kuno, zaman pembauran, zaman neokonfusionisme dan zaman modern. Untuk cina adalah periode weda, biracarita, sutra-sutra dan sekolastik. Dalam filsafat india yang penting adalah bagaimana manusia bisa berteman dengan dunia bukan untuk menguasai dunia. Adapun filsafat islam hanya ada 2 periode yaitu: periode mutakalimin dan filsafat islam.

Jadi, perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini tidaklah berlangsung secara mendadak melainkan berlangsung secara bertahap. Karena untuk memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau harus melakukan pembagian secara periode yang menampilkan ciri khas tertentu.

B. Zaman Pra Yunani Kuno(zaman batu)

Pada abad VI SM yunani muncul lahirnya filsafat dan mulai berkembang suatu pendekatan yang sama sekali berlainan. Mulai saat itu orang mencari jawaban rasional tentang problem alam semesta.dengan demikian filsafat dilahirkan.

C. Zaman yunani kuno

1. Zaman keemasan yunani

Zaman yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk menguingkapkan ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudang ilmu, karena yunani pada masa itu tidak lagi mempercayai mitologi-mitologi.

2. Masa Helinistis Romawi

Pada masa ini muncul beberapa aliran yaitu sebagai aliran sebagai berikut:

a. stoisisme, menurut paham ini jagad raya ditentukan oleh kuasa-kuasa yang disebut logos. Oleh karena itu segala kejadian menurut ketetpan yang tidak dapat dihindari.

b. epikurisme, segala-galanya terdiri dari atom-atom.

c. skepisisme, mereka berfikir bahwa bidang teoritis manusia tidak sanggup mencapai kebenaran

d. eklektisisme, suatu kecenderungan umum yang mengambil berbagai unsur filsafat dari aliran-aliran lain tanpa berhasil mencapai suatu pemikiran yang sungguh-sungguh.

e. neoplatoisme, yakni paham yang ingin menghidupkan kembali filsafat plato.

D. Zaman Abad Pertengahan

Pada abad pertengahan mengalami 2 periode, yaitu:

1. periode patriktis; mengalami 2 tahap:

a. permulaan agama kristen

b. filsafat agustinus; yang terkenal pada masa patristik

2. periode skolastik; menjadi 3 tahap yakni:

a. periode awal, ditandai dengan pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat

b. periode puncak, ditandai oleh keadaan yang dipengaruhi oleh aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat arab dan yahudi

c. periode akhir, ditandai dengan pemikiran kefilsafatan yang berkembang kearah nominalisme.

E. Zaman Renaissance

Ialah zaman peralihan ketika kebudayaan abad pertengahan mulai berubah menjadi kebudayaan modern. Manusia pada zaman ini adalah manusia yang merindukan pemikiran yang bebas. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan Illahi.

F. Zaman Modern

Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern sesungguhnya sudah dirintis sejak zaman renaissance.

G. Zaman Kontemporer (Abad XX Dan Seterus)

Fisi kawan termashur adalah Albert Einstein yang percaya akan kekekalan materi. Dengan kata lain tidak mengakui adanya penciptaan alam. Zaman kontemporer ini ditandai dengan penemuan teknologi canggih.

BAB VI

PRINSIP-PRINSIP METODOLOGI

A. Pengantar

Metodologi merupakan hal yang mengkaji perurutan langkah-langkah yang ditempuh supaya pengetahuan yang diperoleh memenuhi pengetahuan yang ilmiah. Untuk memahami perinsip-perinsip metode filsafat perlu dibahas pengertian metodologi, unsur-unsur metodologi, dan beberapa pandangan tentang prinsip metodologi bagi para filsuf.

B. Pengertian Metodologi

Metodologi dapat diartikan sebagai ilmu yang membicarakan tentang metode-metode. Metode ialah cara bertindak menurut aturan tertentu.

C. Unsur-Unsur Metodelogi

Menurut anton Baker dan ahmad charris zubair adalah

1. Interpretasi (menafsirkan)

2. Induksi dan deduksi

3. Koherensi intern

4. Holistis

5. Kesinambungan historis

6. Idealisasi

7. Komperasi

8. Heuristika

9. Analogi

10. Deskripsi

BAB VII

PENEMUAN KEBENARAN

A. Cara Penemuan Kebenaran

Cara penemuan kebenaran berbeda-beda, kebenaran dapat dilihat secara ilmiah dan non ilmiah. Menurut hartono kasmadi dkk (1960) adalah sebagai berikut:

1. penemuan secara kebetulan, adalah penemuan yang berlangsung secara tanpa disengaja.

2. penemuan coba dan ralat ( trial dan error), terjadi tanpa adanya kepastian akan berhasil atau tidak berhasil kebenaran yang dicari.

3. penemuan melalui otoritas atau kewibawaan, misalnya orang-orang yang mempunyai kedudukan dan kekuasaan sering di terima sebagai kebenaran meskipun pendapatnya tidak di dasarkan pada pembuktian ilmiah.

4. lpenemuan secara spekulatif, cara ini mirip dengan cara coba dan ralat. Akan tetapi, perbedaannya dengan coba dan ralat memang ada.

5. penemuan kebenaran lewat cara berpikir, kritis dan rasional. Cara berpikir yang di tempuh pada tingkat permulaan dalam memecahkan masalah adlah dengan cara berpikir analitis dan sintetis.

6. penemuan kebenaran melalui penelitian ilmiah, cara mencari kebenaran yang di pandang ilmiah adlah yang dilakukan melalui penelitian. Penelitian adlah penyaluran hasrat ingin tahu pada manusia dalam teraf keilmuan.

B. Defenisi kebenaran

Hal kebenaran sesungguhnya memang merupakan tema sentral dalam filsafat ilmu. Problematik mengenai kebenaran, sebenarnya seperti halnya problematik tentang pengetahuan, merupakan masalah-maslah yang mengacu pada tumbuh dan berkembangnya dalam filsafat ilmu.

C. Jenis-jenis kebenaran

Telaah dalam filsafat ilmu membawa orang kepada kebenaran di bagi dalam tiga jenis menurut A.M.W.Pranarka (1987) yaitu:

1. Kebenaran epistemologikal

2. Kebenaran ontologikal

3. Kebenaran semantikal

D. Sifat Kebenaran

Menurut Abbas hamami mintaredja (1983), kata kebenaran dapat di gunakan sebagai suatu kata benda konkrit maupun abstrak. Jika subjek hendak menuturkan kebenaran artinya proposisi yang benar.

E. Teori kebenaran dan kehilafan

1. Teori Kebenaran Saling Berhubungan (coherence theory of truth)

Teori koherensi dibangun oleh para pemikir rationalis seperti Leibniz, Spinoza, Hegel, dan Bradley. Menurut Kattsoff (1986) dalam bukunya Elements of Philosophy teori koherensi dijelaskan “...suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut dalam keadaan saling berhubungan dengan proposisi-proposisi lain yang benar, atau jika makna yang dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita.

2. Teori Kebenaran Saling Berkesesuaian (Correspondence Theory of Truth)

Teori ini berpandangan bahwa suatu proposisi bernilai kebenaran apabila berkesesuaian dengan dunia kenyataan. Kebenaran demikian dapat dibuktikan secara langsung pada dunia kenyataan.

3. Teori Kebenaran Inherensi (inherent theory of truth)

Kadang-kadang teori ini disebut juga teori pragmatis. Pandangannya adalah suatu proposisi bernilai benar apabila mempunyai konsekuensi yang dapat dipergunakan atau bermanfaat.

4. Teori Kebenaran Berdasarkan Arti (semantic theory of truth)

Teori kebenaran semantik dianut oleh paham filsafat analitika bahasa yang dikembangkan paska filsafat bertrand Russell sebagai tokoh pemula dari filsafat Analitika Bahasa.

5. Teori Kebenaran Sintaktis

Teori berkembang diantara filsuf analisis bahasa, terutama yang begitu ketat terhadap pemakaian gramatika.

6. Teori Kebenaran Nondeskripsi

Teori ini dikembangkan oleh penganut filsafat fungsionalisme. Karena pada dasarnya suatu statemen atau pernyataan akan mempunyai nilai benar yang amat tergantung pada peran dan fungsi dari pernyataan itu.

7. Teori Kebenaran Logik Yang Berlebihan (logical superfluity of truth)

Teori ini dikembangkan oleh kaum positivistik yang diawali oleh Ayer. Pada dasarnya menurut teori kebenaran ini, problema kebenaran hanya merupakan kekacauan bahsa saja dan hal ini mengakibatkan suatu pemborosan, karena pada dasarnya apa yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logis yang sama yang masing-masing saling melingkupinya.

BAB VIII

DEFINISI DAN PENALARAN

Dalam penalaran ada dua proposisi pokok yang dinalar, yakni proposisi kategoris dan proposisi majemuk.

A. Definisi

Definisi terdiri atas dua bagian, yakni bagian pangkal disebut defeniendum yang berisi istilah yang harus diberi penjelasan, dan bagian pembatas disebut disebut definiens yang berisi uraian mengenai arti dari bagian pangkal.

1. Macam-macam Definisi

a. Definisi nominalis ialah menjelaskan sebuah kata dengan kata lain lebih umum dimengerti.

b. Definisi Realis

Ialah penjelasan tentang hal yang ditandai oleh suatu term.

c. Definisi Praktis

Ialah penjelasan tentang hal sesuatu ditinjau dari segi penggunaan dan tujuan yang sederhana.

2. Syarat-Syarat Definisi

a. sebuah definisi harus menyatakan ciri-ciri hakiki dari apa yang didefinisikan.

b. sebuah definisi harus merupakan suatu kesetaraan arti dengan yang didefinisikan.

c. sebuah definisi harus menghindarkan pernyataan yang memuat term yang didefinisikan.

d. sebuah definisi harus sedapat mungkin dinyatakan secara rumusan positif.

e. sebuah definisi harus dinyatakan secara singkat dan jelas terlepas dari rumusan yang kabur atau bahsa kiasan.

B. PENALARAN

1. Prinsip-prinsip Penalaran

- Prinsip Identitas

- Prinsip Kontradiksi

- Prinsip Eksklusif.

2. Penalaran Proposisi

Penalaran adalah suatu proses penarikan kesimpulan dari satu atau lebih proposisi. Penalaran ada dua:

- Penalaran Langsung

- Penalaran tidak langsung

C. Silogisme Kategoris

Silogisme adalah proses menggabungkan tiga proposisi, dua menjadi dasar penyimpulan, satu menjadi kesimpulan.

D. Proposisi Majemuk

Proposisi majemuk adalah pernyataan yang terdiri atas dua bagian yang dapat dinilai benar atau salah.

E. Silogisme Majemuk dan Dilema

1. Silogisme disjungtif inklusif

2. Silogisme disjungtif ekskutif

3. Silogisme disjungtif alternatif

4. Silogisme hipotesis kondisional

5. Silogisme hipotesis bikondisional

F. Sesat Pikir

Sesat pikir dapat terjadi ketika menyimpulkan sesuatu lebih luas daripada dasarnya (latinus hos).

BAB IX

HUBUNGAN DAN PERANAN ILMU PENGETAHUAN TERHADAP

PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN NASIONAL

A. Ilmu Masyarakat

Dewasa ini ilmu menjadi sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari, seolah-olah manusia sekarang tidak dapat hidup tanpa ilmu pengetahuan. Kebutuhan manusia yang paling sederhana pun sekarang memerlukan ilmu.

B. Pengertian dan Unsur-Unsur Kebudayaan

Ki Hajar Dewantara; kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman (kodrat dan masyarakat) yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

C. Pengaruh Timbal Balik Antara Ilmu dan Kebudayaan

Ilmu adalah dari pengetahuan. Untuk mendapatkan ilmu diperlukan cara-cara tertentu, ialah adanya suatu metode dan mempergunakan sistem, mempunyai objek formal dan objek material.

D. Peranan Ilmu Terhadap Pengembangan Kebudayaan Nasional

Istilah kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat.

E. Strategi Kebudayaan

Strategi kebudayaan merupakan upaya bagaimana menangani kebudayaan khususnya di Indonesia yang beragam budaya.

BAB X

ETIKA KEILMUAN

A. Pengantar

Ilmu berupaya mengungkapkan realitas sebagaimana adanya, sedangkan moral pada dasarnya adalah petunjuk tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia.

B. Antara, Etika, Moral, Norma, dan Kesusilaan

Menurut Sunoto (1982) etika dapat dibagi menjadi dua yaitu etika deskripsi yaitu menggambarkan, dan etika normatif yaitu etika prinsif-prinsif.

Moral artinya adat atau cara hidup yang pakai dalam masyarakat.

Norma adalah alat tukang kayu atau tukang batu yang berupa segitiga. Kemudian norma adalah sebuah ukuran.

Kesusilaan adalah hasil suatu menjadi yang terjadi didalam jiwa.

C. Problema Etika Ilmu Pengetahuan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menghambat ataupun meningkatkan keberadaan manusia tergantung pada menusianya itu sendiri, karena ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan oleh manusia dan untuk kepentingan manusia dan kebudayaannya.

D. Ilmu Bebas Nilai atau Tidak Bebas Nilai

Bebas nilai atau tidak bebas nilai yang dimaksudkan adalah tuntunan setiap kegiatan ilmiah agar didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri.

E. Pendekatan Ontologis

Ontologis adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaah keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia.

F. Pendekatan Epistemologi

Epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur, dan validitas atau kebenaran pengetahuan.

G. Pendekatan Akseologis

Aksiologis adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum

H. Sikap Ilmiah yang Harus Dimiliki Ilmuwan

Ilmu bukanlah merupakan pengetahuan yang datang demikian saja sebagai barang yang sudah jadi dan datang dari dunia khayal.

BAB XI

STRATEGI PENGEMBANGAN ILMU DI INDONESIA

A. Pengantar

Pancasila digali dari budaya bangsa Indonesia sendiri, sehingga Pancasila mempunyai fungsi dan peranan yang sangat luas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

B. Pengertian Paradigma

Paradigma menurut Thomas S. Kuhn adalah suatu asumsi dasar dan asumsi teoritis yang umum (merupakan suatu sumber nilai), sehingga menjadi suatu sumber hukum, metode, serta penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri, serta karakter ilmu pengetahuan itu sendiri.

C. Landasan Ontologis, Epistemologis, axiologis, dan Antropologis Pancasila

Landasan ontologis dimaksudkan untuk mengungkapkan jenis keberadaan yang diterapkan pancasila. Landasan epistemologis dimaksudkan untuk mengungkapkan sumber pengetahuan dan kebenaran tentang pancasila sebagai sistem filsafat dari ideologi. Landasan aksiologis dimaksudkan untuk mengungkapkan jenis nilai dasar yang terkandung dalam pancasila. Landasan antropologis dimaksudkan untuk mengungkapkan hakikat manusia dalam rangka pengembangan sistem filsafat pancasila.

D. Pancasila Sebagai Paradigma Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Pembangunan nasional adalah upaya bangsa untuk mencapai tujuan nasionalnya sebagaimana yang dunyatakan dalam pembukaan UUD 1945.

DAFTAR PUSTAKA BUKU

Abbas Hamami M. 1976. Filsafat (Suatu Pengantar Logika Formal-Filsafat Pengatahuan). Yogyakarta : Yayasan Pembinaan Fakultas Filsafat UGM.

. 1982. Epistemologi Bagian I Teori Pengetahuan. Diktat. Yogyakarta: Fakultas Filsafat UGM.

. 1980. Disekitar Masalah Ilmu; Suatu Problema Filsafat. Surabay: Bina Ilmu.

. Epistimologi Masa Depan dalam jurnal filsafat. Seri 1, februari 1990.